Buletin PMII Tidar Edisi 6

Halaman 1

(Senin, 28/12) Pada November hingga Desember 2021 ini, Universitas Tidar–melalui Komisi Pemilihan Umum Raya Universitas Tidar (KPRU UNTIDAR), telah dihadapkan dengan pemilihan raya (Pemira). Pemira ditujukan untuk mencari Ketua Umum DPM KM serta Ketua dan Wakil Ketua BEM KM Universitas Tidar Periode 2022. Pemira kali ini terdapat tiga kandidat yang mencalonkan diri sebagai calon Ketua Umum DPM KM dan terdapat dua pasangan kandidat yang mencalonkan diri sebagai Ketua dan Wakil Ketua BEM KM Universitas Tidar.
Sahabat Abdul Aziz yang merupakan kader PMII Rayon Notonegoro Komisariat Tidar turut berpartisipasi dalam kontestasi pemira tersebut. Ia bersama sahabati Hartati yang berasal dari Rayon Raden Santri, terpilih menjadi Paslon No.1 Kandidat Ketua dan Wakil Ketua BEM KM Universitas Tidar Periode 2022.
Berbagai mekanisme pemira telah mereka lalui dengan lancar. Mulai dari verifikasi berkas, pengambilan nomor calon, kampanye, debat bakal calon hingga pemilihan. Namun, tiba saat perhitungan perolehan suara, suara terbanyak mahasiswa Universitar Tidar belum memihak kepada mereka. Pasangan sahabat Abdul Aziz dan sahabati Hartati baru memperoleh 1489 suara atau 36,06% suara yang artinya ‘kalah’ dari lawannya, di mana paslon No.2 memperoleh 2644 suara atau 63,97% suara.
Sahabat Abdul Aziz merupakan mahasiswa Prodi Hukum Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tidar sejak 2019. Sejak semester satu, ia sudah mulai tertarik untuk bergabung dengan organisasi di kampus. Baik organisasi internal maupun eksternal. Ketika semester satu, ia telah mengikuti Mapaba PMII. Semester dua ia bergabung di HMPH Untidar sebagai Staf Penelitian dan Pengembangan, kemudian ia juga bergabung dalam UKM Pramuka.
Selesainya satu periode di HMPH Untidar, sahabat Abdul Aziz melanjutkan kiprahnya dengan bergabung di BEM KM Untidar.
“Di BEM KM, saya masuk di Kementerian Sosial dan Politik lebih tepatnya di Departemen Kajian dan Strategi”, tutur sahabat Abdul Aziz saat ditanya mengenai posisinya di BEM KM Untidar.
Selama hampir genap satu periode di BEM KM tentunya banyak pengalaman, permasalahan yang dihadapi, dan kontribusi yang diberikan oleh sahabat Abdul Aziz. Berbekal itulah, ia memberanikan diri untuk bisa berkontribusi lebih banyak lagi dengan mencalonkan diri menjadi calon Ketua BEM KM Untidar Periode 2022.
Terlepas dari kenyataan dirinya kalah dalam kontestasi pemira, ia mengatakan bahwa untuk masa mendatang, ia akan memilih menjadi oposisi dari kepengurusan selanjutnya. Sahabat Abdul Aziz juga memberikan pesan dan kesannya selama mengikuti kontestasi pemira tersebut.
“Sebelum Anda bergerak, (Anda) harus tahu apa yang perlu dipersiapkan, apa yang akan terjadi, itu harus tahu,” pesannya.
“Dan kesannya cukup ekstrim, karena di situ mental kita benar-benar ditempa, bagaimana kita harus menghadapi massa, bagaimana kita harus benar-benar berani atau tidak, sulit untuk orang-orang yang mentalnya belum mapan pasti akan down”, pungkas Sahabat Abdul Aziz mengakhiri sesi wawancara.


Halaman 2

Ahad (26/12) – PMII Rayon Notonegoro Komisariat Tidar mengadakan kegiatan diskusi rutin yang bertajuk “Jarak” (Jagongan Pergerakan). Pada kegiatan Jarak kelima ini, diskusi dipantik oleh dua orang anggota PMII Rayon Notonegoro yaitu sahabati Ariana dan sahabati Nikma. Sedangkan moderator dibawakan oleh sahabat Raysha, yang menggantikan sahabat Abil yang berhalangan hadir tepat waktu. Diskusi yang diadakan di basecamp PMII Komisariat Tidar mengangkat tema “Islamic Gender”, di mana pemantik ingin membahas mengenai kesetaraan gender menurut perspektif Islam.

Pembahasan dimulai dengan penjelasan dari pemantik mengenai perbedaan antara gender dan seks. Dikatakan bahwa definisi gender sendiri merupakan pembeda antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi perannya masing-masing. Sedangkan untuk definisi seks adalah perbedaan yang lebih merujuk pada bentuk fisik atau secara biologis. Jadi, antara seks dan gender adalah sebuah bentuk perbedaan yang dilihat dari dua sudut pandang.

Pada diskusi kali ini, pemantik lebih menekankan permasalahan mengenai perbedaan gender, yang selama ini marak diperdebatkan. Perbedaan seks antara laki-laki dan perempuan sudah sangat jelas dan tidak pernah menuai kontroversi. Peran perempuan yang dalam kasus ini lebih menjadi sorotan, karena realitas yang ada memang sering kali perempuan dianggap berbeda jika berbicara masalah peran. Oleh karena itu, pemantik berharap agar diskusi ini dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengetahui kesetaraan gender.

Berbicara mengenai gender menurut pandangan Islam sendiri sudah dipaparkan secara jelas dalam syari’at. Seperti halnya ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menunjukkan betapa Islam menjunjung tinggi prinsip kesetaraan gender. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa derajat laki-laki dan perempuan di hadapan Allah adalah sama sebagai seorang hamba, tetapi yang membedakan adalah ketaqwaan seseorang. Dalam arti, untuk masalah peran, perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki-laki.

Di samping semua itu, bukan hanya hak yang menjadi pembahasan, tetapi juga ada kewajiban baik bagi laki-laki maupun perempuan. Mereka bebas menjalani peran masing-masing yang mereka tentukan, akan tetapi tidak melupakan kewajiban yang harus dipenuhi. Sebagai contoh kewajiban sebagai seorang suami dan istri, di mana suami berkewajiban mencari nafkah sedangkan istri harus mendidik anak. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa kewajiban harus didahulukan sebelum melakukan sesuatu yang lain.

Di akhir sesi, pemantik membuka diskusi dengan membebaskan audiensi untuk saling berpendapat, melontarkan pertanyaan, ataupun membantah pendapat lain. Hasilnya banyak dari peserta yang angkat bicara mengenai gender, bahkan berbagi cerita dan pengalaman tentang permasalahan yang terjadi di masyarakat ataupun dialami sendiri. Diskusi ini berjalan dengan lancar, dan partisipasi dari para anggota PMII juga cukup tinggi untuk meramaikan kegiatan Jarak kelima ini.

(Minggu, 26/12) – Komisariat Tidar menyelenggarakan first gathering Aksara PMII Tidar. Acara tersebut diadakan di Taman Pancasila dan dihadiri oleh anggota dan kader PMII. Kegiatan diawali dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh Sahabat Sandi Prabowo. Selain first gathering Aksara, acara yang diadakan pada siang hari itu, juga bertujuan untuk memperkenalkan gerakan baru PMII Komisariat Tidar yang diberi nama “Lapak Baca dan Lingkar Baca”. Ada pun gerakan tersebut bertujuan untuk membiasakan anggota dan kader PMII dalam membaca dan berdiskusi.
Seperti namanya, pada Lapak Baca dan Lingkar Baca, pengurus Komisariat Tidar membawakan berbagai macam buku bacaan. Mulai dari majalah, novel, hingga buku bacaan umum yang ditujukan untuk para sahabat sahabati yang telah hadir. Buku-buku tersebut merupakan koleksi bacaan PK Tidar yang selama ini berada di basecamp Komisariat Tidar.
Kegiatan Lapak Baca dan Lingkar Baca yang pertama kali ini, diisi dengan berbagi pengalaman seputar dunia literasi. Mulai dari pengalaman mengikuti perlombaan esai, petunjuk praktis agar suka membaca hingga cara untuk menuangkan gagasan ke dalam bentuk karya tulis. Sahabat Alfian, selaku Pemimpin Redaksi Aksara sekaligus Ketua Bidang Kaderisasi Komisariat Tidar menyampaikan bahwa untuk pertemuan selanjutnya, kegiatan Lapak Baca dan Lingkar Baca akan diisi dengan membaca buku bersama kemudian berdiskusi tentang buku tersebut. Hal tersebut bertujuan agar esensi dari buku yang dibaca tidak hanya disimpan seorang diri serta lenyap begitu saja, sehingga tidak memberikan impresi apa pun juga kepada pembacanya.
Oleh sebab itu, dengan adanya diskusi sebagai tindak lanjut dari kegiatan membaca ini, diharapkan ilmu dalam buku tersebut akan lestari dan memiliki arti. Di samping itu, dengan membaca dan berdiskusi kader dan anggota PMII akan memiliki keterampilan berbahasa. Baik itu keterampilan dalam menyimak, berbicara, membaca hingga menulis.
Pada first gathering tersebut pula, sahabat Sandi menyampaikan bahwasanya Pengurus Cabang PMII Magelang akan menyusun sebuah majalah yang akan diberi judul “Tepian Kober”. Rencananya, majalah tersebut akan berisi buah pikir dari kader dan anggota PMII Magelang, baik dari Komisariat Tidar maupun Komisariat Jogorekso. Harapannya, dengan adanya majalah ini karya kader dan anggota PMII Magelang dapat diabadikan.
Pada sesi akhir pertemuan ini, diisi dengan sharing-sharing pengalaman tentang membaca dan menulis yang pernah dilakukan. Sahabat Astri memulai dengan bercerita tentang pengalamannya pada saat membaca buku saat dibangku sekolah menengah pertama. Kemudian sahabat Sandi juga ikut bercerita tentang pengalamannya menulis saat kuliah dimana ia menyampaikan bahwa setiap karya kepenulisan itu harus dipublish agar karyanya diakui dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Kesimpulan yang dapat dipetik pada pertemuan ini yaitu membaca merupakan jendela dunia. Ibaratkan rumah yang ingin suasananya terbuka maka harus perbanyak membuka jendela rumah tersebut. Membaca setengah-setengah lebih berbahaya dari pada kejahatan.


Halaman 4

Senin (28/12). Rayon Mohammad Hatta kembali mengadakan kegiatan rutinan yaitu Ngemil yang ke 12 (Ngemil#12) yang bertempat di rumah sahabati Dewi Sidomulyo, Secang, Magelang. Diskusi ini bertema “Sejarah Perjuangan Mahasiswa” yang dipantik oleh sahabat Nizam dan dimoderatori oleh sahabat Imam.
Kegiatan Ngemil dimulai dengan pembacaan Tawasul. Kemudian dilanjut dengan diskusi yang dipandu oleh sahabat Imam selaku moderator. Diskusi dimulai dengan pantikan dari sahabat Nizam ” Apakah sahabat sahahati ada yg tau Sejarah Perjuangan Mahasiswa?” Tuturnya.
“Bahwa Boedi utomo adalah perjuangan mahasiswa pertama yang terjadi pada tahun 1908, lalu dilanjutkan dengan adanya sumpah pemuda yang terjadi pada 1928 dan yg berjuang didalamnya pun para mahasiswa” Jelasnya.
Kemudian masuk tahun 1960an dimana suasana politik pada saat itu sedang bergejolak, gerakan dari mahasiswa juga sangat aktif salah satunya HMI yang berdiri atas inisiasi dari Masyumi. Di tahun 1960 merupakan tahun yang sangat bersejarah bagi dunia mahasiswa “tepatnya pada tanggal 17 April 1960 berdiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)” tegasnya.
Tahun 1965 terjadi sebuah gerakan yang cukup besar dari para mahasiswa yaitu KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa) yang diketuai oleh Zamroni dari PMII. Gerakan KAMI ini memiliki tuntutan yang disebut dengan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). “Tiga tuntutan yang ada di dalam Tritura yaitu pembubaran PKI berserta ormas-ormasnya, Turunkan harga sembako, Perombakan kabinet Dwikora” jelasnya.
Selanjutnya pemantik bertanya “Bagaimana dengan perjuangan mahasiswa sekarang, apakah terjadi kemerosotan dan kemunduran, jika iya terjadi apakah penyebabnya?”
Kemudian Sahabat Nuwafal menjawab “Sebenarnya jika dilihat dari sudut pandang perjuangan tidak terjadi kemerosotan hanya saja berbeda cara juangnya karena gejolak yang ada pada zaman dahulu dan sekarang sudah berbeda. Dan Permasalahan saat ini yang ada didiri mahasiswa yaitu melemahnya kekuatan intelektual dan kurangnya kesadaran terkait permaslahan yang harus dihadapi oleh mahasiswa saat ini”
Dengan adanya fenomena yang ada sekarang, sudah seharusnya kita sebagai mahasiswa pergerakan benar-benar sadar jiwa dan akalnya sehinga selalu sigap menghadapi segala permasalahan yang muncul.


Halaman 5

(Rabu, 29/12) – Kukira Anak Teater Gila, Ternyata Memang Gila merupakan tema diskusi Rayon Raden Santri yang kelima. Njo Dolan#5 ini dilaksanakan di kediaman Sahabati Maulida, tepatnya di Kebonkliwon RT 9 RW 6, Kebonrejo, Salaman. Diskusi kali ini dipandu oleh sahabat M. Nurul Huda sebagai moderator dan sahabati Arina Manasika Hansi sebagai pemantik.
Tema diskusi ini cukup menarik yakni mengulas tentang fakta anak teater. Sahabat Hansi memulai diskusi dengan memberikan pertanyaan kepada sahabat sahabati, “Apakah kalian setuju, kalau anak teater itu gila?”
Definisi gila dalam teater berbeda dengan definisi gila dalam kehidupan sehari hari. Gila dalam teater bukanlah stempel yang acap kali digunakan untuk menggambarkan orang bergangguan jiwa, telanjang, dan cengar-cengir sendiri di pinggir jalan. Ada pun definisi gila dalam teater ialah mereka yang bisa berpikir dan bertindak di luar dugaan atau out of the box. Kegilaan dalam teater ialah kegilaan yang sistematis yang mana aktor secara sadar melakukan kegilaan tersebut.
“Ada beberapa alasan kenapa anak teater itu harus gila. Salah satunya yaitu untuk mendalami peran. Main teater itu gampang-gampang susah. Gampang kalau kebetulan dapat peran yang mudah, seperti peran menjadi pohon, di pinggir jalan, tinggal berdiri tanpa dialog dan tidak perlu memikirkan blocking. Akan tetapi kalau mendapat bagian yang susah, misalnya peran yang dialognya sedikit, tapi banyak main gerak dan ekspresi. Hanya orang yang gila berproses kreatif juga yang tahu bagaimana cara menghidupkan suatu karakter,” ungkap sahabat Hansi.
Kemudian sahabat Hansi berbagi pengalamannya yang berperan menjadi instruktur senam stres di pasar Kudus. Aktingnya yang menirukan gaya ibu-ibu intruksi senam serta berteriak di pasar selayaknya orang gila pun berbuah sukses. Hal tersebut dibuktikan dengan seorang ibu pasar yang menangisinya, dikarenakan merasa iba dengan sahabat Hansi yang masih muda tetapi bernasib seperti itu. Selain Hansi, ada juga Sahabat Iis yang juga ikut uji nyali dengan memerankan tokoh pemulung di Pasar Kudus tersebut.
Selanjutnya, alasan dibalik anak teater yang diharuskan untuk ‘gila’ yaitu agar dapat berimprovisasi.
“Pertunjukan teater tidak seperti syuting film yang bisa di ulang- ulang ketika terjadi kesalahan. Apa yang terjadi di atas panggung, itulah yang penonton lihat. Jika terjadi kesalahan pun, harus dibuat bagaimana caranya agar penonton itu tidak tahu bahwa ada kesalahan dalam adegan. Itu sebabnya dibutuhkan orang-orang gila yang bisa segera berimprovisasi jika terjadi kesalahan atau lupa dialog,” tutur sahabat Hansi.
“Kita di dunia juga bermain teater. Manusia sebagai wayangnya, Allah sebagai dalangnya dan (kita) menerima skenario-Nya yang indah.” pungkas si pemantik.
Acara Njo Dolan#5 ini juga dihadiri oleh Lurah Teater Mhangkat, Sahabat Ibna yang sedikit menambahkan terkait dunia bermain peran. Di akhir diskusi ini, Sahabat Mukhlis mengatakan bahwa beliau sangat mengapresiasikan dengan adanya kegiatan diskusi di setiap rayon Komisariat Tidar yang semakin berkembang. Hal ini merupakan salah satu cara untuk melatih dan mengontrol kader kader PMII agar semakin baik dalam seni berdialektika.


Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar