Buletin PMII Tidar Edisi 7

Halaman 1

Lendasan Gerak Kader PMII
Ngopi#12 Rayon Al Khawarizmi
(Sabtu, 1/1) Diawal tahun baru 2022 Rayon Al Khawarizmi kembali melaksanakan kegiatan rutinannya yang bertajuk Ngopi#12. Hari libur diawal tahun bukanlah halangan bagi para pengurus dan anggota Rayon Al Khawarizmi untuk tetap memberikan asupan bergizi pada jiwa dan akalnya. Kegiatan Ngopi kali ini dilaksanakan dikediaman sahabat yoga yang berlokasi di selopampang, dan dihadiri oleh angkatan sepuh sampai angkatan termuda bahkan dari rayon lainpun ada yang turut menghadiri acara ini.
Tema diskusi kali ini yaitu “Aswaja Sebagai Manhajul Harokah”, mengapa hal tersebut penting untuk didalami khusunya oleh kader PMII ?. Menanggapi hal tersebut sahabat adit selaku pemantik pada Kegiatan ini menjelaskan bahwa “Aswaja adalah inti dari pengkaderan yang ada di dalam PMII,” jelasnya.
Mujahadah yaitu pembacaan rotibul hadad dan kidung puji rahayu, yang dipimpin oleh bidang keagamaan rayon untuk mengawali Ngopi kali ini. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang dipantik oleh Sahabat Adit dan dimoderatori oleh sahabat Rohim.
Setalah forum diskusi dibuka, pemantik langsung melontarkan pertanyaan pada forum “Apakah diforum ini ada yang bisa menjelaskan apa itu Aswaja?” Tutur pemantik. Sahabat sahabatipun menjawab pertanyaan tersebut dengan antusias dan kemudian menghasilkan kesimpulan Aswaja adalah segolongan orang yang mengikuti jalan Nabi, Para Sahabat dan Tabi’in.
Aswaja merupakan sebuah faham keagamaan dimana dalam bidang akidah menganut pendapat Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu mansyur Al-Maturidi, dalam bidang fiqh menganut pendapat dari salah satu madzhab empat (madzahibul arba’ah – Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hambali), dan dalam bidang tasawuf atau akhlak menganut Imam Junaid al-Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali.
Menurut penjelasan dari pemantik, yang menjadi ciri khas dari paham aswaja yaitu “Aqoid 50” yang dapat kita pelajari didalam kitab aqidatul awam.
“Alloh itu tanpa tempat dan tanpa arah, karena memiliki sifat mukhalafatuhu lil-hawaditsi yang berarti Alloh tidak menyerupai Makhluk.” Tegasnya. Hal tersebut merupakan salah satu sifat yang terdapat didalam 50 Aqoid.
Selain menjadi kerangka berfikir (manhajul fikr) paham aswaja ini juga menjadi manhajul harokah (bergerak). Dalam hal ini Aswaja sendiri memiliki prinsip-prinsip yang dimana prinsip tersebut digunakan sebagai landasan. “Aswaja memiliki prinsip yang dimana prinsip inilah menjadi landasan kita bergerak, PMII berpegang pada prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tawazun (netral), ta’adul (keseimbangan), dan tasamuh (toleran).”
Diharapkan setiap kader dan anggota dapat memahami lebih dalam terkait dengan Aswaja sehingga nantinnya kader PMII dapat mengembangkan aspek-aspek Maslahah, melakukan advokasi kebijakan, meminimalisir bahaya, menghindari kerusakan, melakukan gerakan preventif, menjadi kader pelopor, dan mewujudkan multi effect maslahat.
Selain hal diatas, dengan berpedoman pada paham aswaja para kader PMII nantinya diharapkan dapat Melakukan pembelaan terhadap kaum Mustadh’afin, Melakukan pembelaan terhadap kelompok atau perorangan yang dilemahkan dan ditindas secara struktur sosial-budaya, ekonomi dan politik serta memberdayakan, memperkuat dan mengembangkan sepuluh kelompok; faqir, miskin, ‘amil, mu’allaf qulubuhum, riqab, gharim, fi sabilillah, ibnu sabil, sa’il dan mahrum, dan yatim.


Halaman 2

LAPAK BACA DAN LINGKAR BACA #2
Minggu, 2 Januari 2022, di bawah pohon yang rindang dalam keteduhan taman A. Yani, Aksara PMII Komisariat Tidar kembali mengajak para anggota dan kader PMII untuk duduk bersama, membaca buku, dan berbagi cerita dalam acara lapak baca dan lingkar baca yang akan dilakukan secara rutin setiap hari minggu. Kegiatan ini dilakukan secara rutin tentunya untuk menumbuhkembangkan minat dan kebiasaan membaca para angggota dan kader.
Pada pertemuan kedua ini, Aksara Komisariat Tidar menyediakan berbagai macam buku bacaan yang siap untuk dibaca oleh para anggota dan kader PMII mulai dari majalah, novel, hingga buku bacaan umum. selain kegiatan lapak baca, para anggota dan kader PMII Komisariat Tidar juga diajak duduk melingkar membaca buku satu persatu lalu bertukar pemahaman tentang hal-hal yang menarik dari bacaannya.
Buku yang dipilih dalam lingkar baca kali ini adalah buku “PMII dalam Simpul-Simpul Sejarah Perjuangan” Karya Fauzan Alfas. Seperti yang dikatakan sahabat Aminuddin Ma’ruf dalam sambutannya, “Buku PMII dalam Simpul-Simpul Sejarah Perjuangan merupakan pintu masuk membaca dan memahami PMII dalam konteks sejarah, karena didalam buku tersebut tersingkap panggung sejarah, bagaimana kondisi PMII diawal pendirian sampai masa-masa perjuangan, serta berbagai kiprah PMII di kancah nasional maupun internasional”. Oleh karena itu buku ini sangat cocok untuk menjadi buku pilihan pertama dalam sesi lingkar baca ini.
Meskipun tiap peserta hanya membaca satu sampai dua paragraf secara bergantian, sesi lingkar baca ini memberi kesempatan bagi para kader dan anggota PMII untuk berbagi pengetahuan dan hal-hal menarik dari apa yang dibahas dalam buku tersebut. Alhasil para anggota dan kader mendapat ilmu baru dan pemahaman baru dari sesi lingkar baca ini.
Pembacaan buku dimulai dengan membaca sambutan ketua umum PB PMII tahun 2015 yaitu sahabat Aminuddin Ma’ruf. Kemudian dilanjut dengan pembacaan pengantar penulis dan prolog yang disampaikan oleh sahabat M. Said Budairi salah satu deklarator kelahiran PMII.
Sesi lingkar baca masih berlanjut sampai manuskrip kesatu yaitu masa embrional kelahiran PMII pada tahun 1955-1963. Dimulai dengan membaca sub-bab pertama mengenai cikal bakal PMII dan tak lupa diselingi diskusi santai mengenai hal-hal yang ada dalam bab tersebut. Namun karena keterbatasan waktu pada sesi lingkar baca ini hanya membaca sampai sub-bab kedua mengenai upaya dibalik kelahiran PMII. Untuk sub-bab ketiga dan seterusnya akan dilanjutkan di minggu berikutnya.


Halaman 3

Ngemil #13
PMII Rayon Ekonomi Moh Hatta Komisariat Tidar

Mengubah Nasib dengan Kata

Senin (3/1) – PMII Rayon Ekonomi Moh Hatta Komisariat Tidar, kembali mengadakan kegiatan “Ngemil”. Ngemil merupakan kependekan dari Ngemutaken Marang Ilmu, yakni kegiatan diskusi rutin rayon ekonomi. Pemantik pada diskusi Ngemil kali ini adalah sahabati Nadin Aulia, salah satu kader PMII Rayon Ekonomi Moh Hatta. Acara dibawakan oleh sahabat Nizam, anggota PMII angkatan 2021.

Pemantik mengangkat tema “Mengubah Nasib dengan Kata”. Ia mengambil referensi dari buku yang berjudul “Mantra” karya Prasetya M. Brata. Dalam penyampaiannya, pemantik menggunakan metode yang lebih interaktif. Hal ini dimaksudkan agar diskusi lebih hidup dan memancing keaktifan peserta.

Menurut KBBI nasib merupakan sesuatu yang sudah ditentukan Allah kepada setiap diri manusia. Ketentuan yang dimaksud bisa merupakan suatu hal yang baik, ataupun suatu hal yang buruk. Akan tetapi, sebagian orang sering salah persepsi mengenai arti nasib itu sendiri.
“Stigma masyarakat masih menganggap bahwa nasib adalah sesuatu yang bagi mereka kurang baik, atau mengartikan suatu hal yang negatif”, ungkap sahabati Nadin.

Perlu digaris bawahi, bahwa sesungguhnya nasib seseorang dapat diubah. Salah satunya seperti yang diangkat dalam tema diskusi ini yaitu mengubah nasib melalui kata-kata. Meski dapat kita ubah, namun kadang nasib tersebut bisa jadi sesuai ekspektasi, juga bisa tidak sesuai.

Sebagai contoh, misalnya kita mengalami sebuah kejadian yang menurut pandangan orang lain merupakan hal buruk. Kita bisa saja menganggapnya juga sebagai hal negatif, atau malah sebaliknya sebagai hal positif. Semua kembali pada diri kita masing-masing, Bagaimana memandang suatu peristiwa.
“Semuanya tergantung pada diri kita yang menyikapi, mau pilih hidup ribet atau simpel”, tambah sahabati Nadin.

Dalam bahasa buku Mantra tersebut, faktor yang memunculkan pandangan seseorang ini disebut dengan istilah “VAKOG”, yang penjabarannya sama. Terakhir adalah kesimpulan dari apa yang dijelaskan oleh pemantik pada diskusi Ngemil ketiga belas kali ini. Dimana ketika mendapati sebuah kejadian atau bertemu seseorang, jangan langsung menilai menurut pandangan kita. Karena yang terlihat baik belum tentu benar, dan yang terlihat buruk belum tentu salah.
“Segalanya perlu dianalisis sebelum kita menjudge sesuatu”, pungkas sahabati Nadin dalam diskusi kali ini.


Halaman 4

Rabu (5/1), “Negara Islam atau Islam Bernegara?” ialah satu-satunya tema Njo Dolan yang berbau Islam dan politik, yang mana mukadimah diskusinya dibuka dengan kajian linguistik. Diskusi keenam yang dipantik oleh sahabat Nurul Huda dan dimoderatori oleh sahabati Rizki Fadilah ini diawali dengan mujahadah dan tahlil yang dipimpin oleh sahabati Elsa. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif. “Negara Islam atau Islam bernegara? Kalian setuju yang mana?” tanya sahabat Huda memantik diskusi yang didominasi oleh perempuan ini.
Pada kegiatan silang pendapat yang diadakan di kediaman sahabati Amalia ini, sahabat Huda selaku mahasiswa PBSI menerangkan pengertian negara Islam dengan Islam bernegara dari sudut pandang linguistik. Ia mengatakan bahwa frasa tersebut dapat dilihat dari morfologi bahasa, yakni ada tidaknya kata imbuhan ‘ber’. Dalam morfologi, imbuhan ‘ber’ digunakan untuk membentuk kata kerja. Contohnya ber+kerja, ber+sepeda dan lain-lain. Oleh sebab itu, Islam bernegara dapat diartikan Islam yang turut serta menjalankan pemerintahan negara.
“Saya pastikan di dunia ini 90% tidak ada negara Islam, dengan kata lain, pengertian negara dengan sistem pemerintah atau negaranya menjalankan syariat Islam secara mutlak. Sedangkan Islam bernegara, Islam turut adil dalam membuat negara dan mempunyai peran lebih untuk agama,” ujar sahabat Huda.
Mengingat kembali sejarah Islam di Indonesia, yakni diceritakan Sabdo Palon dan Syaikh Subakir mempunyai perjanjian. Bahwasanya, ia diperbolehkan menyebarkan agama selain Hindu dan Budha, dengan syarat tidak memaksa masyarakat untuk memasukinya. Banyak teori-teori tentang masuknya Islam di Indonesia misal teori Gujarat, Makkah, Cina dan teori Persia.
Pada perjalanannya, dapat dipastikan terdapat permasalahan dalam Islam bernegara. Misalnya mengenai bughot atau kelompok orang yang memerangi pemerintahan yang sah. Ada pun dalam Al-Quran telah disebutkan bahwa ‘atiumuwoh waatiurosul wa ulil amri minkaum’ yang berarti taatlah kepada Allah Rasul Allah dan para pemimpin (pemerintah).
“Menurut saya ada 3 golongan orang dalam menafsirkan ayat ini. Pertama, golongan taat pemerintah, yang mana ayat tersebut dijadikan pedoman untuk bernegara. Kedua, golongan tidak atau menolak pemerintah yakni golongan yang biasanya kontra dengan pemerintah, dengan menawarkan opsi negara versi mereka. Ketiga, golongan netral atau masa bodoh. Ini golongan yang tidak peduli dengan hal itu,” terang sahabat Huda.
Inti bernegara dalam Islam adalah kemampuan dalam mewujudkan keadilan di tengah-tengah masyarakat. Al-Quran sebagai way of life umat Islam telah menggambarkan sebab-sebab kehancuran sebuah negara, sebagaimana firman Allah Swt.: “Dan kami tidak membinasakan suatu negeri, kecuali penduduknya melakukan kezaliman.” (QS. Al-Qashash: 59). Tindakan zalim yang dilakukan oleh penduduk merupakan faktor hancurnya negara, dan kehancuran bangsa ditandai dengan rusaknya moral masyarakat. Sedangkan inti moral masyarakat adalah terletak pada kemampuan bersikap adil dan tidak menzalimi, karena akhlak yang paling tinggi adalah ketika dapat menjaga diri dari perbuatan menyakiti orang lain, baik secara lisan maupun perbuatannya.

Di samping itu, Al-Quran juga mengingatkan para pembesar dalam sebuah negara agar menjauhkan dari tipu daya jahat, karena tipu daya mereka, menjadi sebab hancurnya negara, sebagaimana firman-Nya: “Dan demikian pada setiap negeri kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri tersebut. Padahal mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.” (QS. al-An’am: 123).
Diskusi pun terus berlanjut. Banyak sahabat sahabati yang saling melemparkan pertanyaan hingga berbagi pengetahuan mengenai tema diskusi.


Halaman 5

Srawung Kahanan
( Selasa, 04/01 ) Rayon Bamboosa kembali mengadakan kegiatan diskusi #Rebung4 di awal tahun 2022 yang bertempat di BC Komisariat Tidar dengan tema “Srawung Kahanan” yang dipantik oleh sahabat Ahsan. Menurut sahabat Ahsan “Srawung Kahanan” adalah suatu kecerdasan, mengingat zaman sekarang banyak orang pandai dan banyak prestasi tetapi minim tata krama dan kurang tanggap dalam memahami peristiwa.
“Orang zaman dulu itu lebih cerdas dibandingkan dengan orang-orang di masa sekarang. Negara Indonesia memiliki intelektual tinggi tetapi rendah dalam tata krama dan lemah dalam mempertahankan adat dan budaya asli negara. Contohnya, dalam menanggapi kasus Covid19. Indonesia mendatangkan vaksin dari luar negeri, padahal Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam yaitu tumbuh-tumbuhan yang berfungsi sebagai obat,” jelas sahabat Ahsan.
“Jika kita melihat zaman sekarang ini telah terjadi krisis moral, krisis tata krama yang terlihat dari adanya perilaku negatif seperti hilangnya rasa hormat terhadap orang tua dan guru,” tambahnya.
Dari penyampaian singkat sahabat Ahsan tersebut mampu menarik hal yang dapat didiskusikan para peserta yang hadir pada forum diskusi. “Menurut sahabat Ahsan, apa yang membuat pemuda zaman sekarang kurang dalam moral,?” tanya sahabat Ridwan. Sahabat Ahsan menanggapi bahwa menurutnya kurangnya moral yang terjadi pada pemuda sekarang akibat adanya sifat egois atau mementingkan kepentingan pribadi dan acuh dengan kepentingan orang lain.
Kemudian sahabat Mukhlis ikut menanggapi pertanyaan sahabat Ridwan “Faktor lain dari kurangnya moral adalah perkembangan teknologi. Kadang kita tidak sadar bahwa perkembangan teknologi yang masuk secara tidak langsung akan membawa budaya asing. Kalau kita melihat negara Jepang, di sana perkembangan bahasa Inggris justru tidak begitu pesat jika dibandingkan dengan perkembangan bahasa asli Jepang dan Jepang mampu mempertahankan budayanya dengan baik. Berbeda dengan Indonesia, orang Indonesia justru lebih tertarik dengan kebudayaan asing diandingkan mempertahankan budaya sendiri sehingga akan menimbulkan terjadinya pergeseran budaya yang menjadikan pergeseran moral,” jelasnya.
Sahabat Dihqi juga turut berpendapat bahwa menurutnya penurunan akhalak terjadi karena faktor pendidikan. Pendidikan merupakan pondasi awal bagi setiap manusia, ditambah berkembangnya zaman yang akan semakin menggerus budaya.
Suasana diskusi menjadi semakin menarik dengan tanggapan dan pendapat dari peserta diskusi lainnya. Sahabat Irsyad menambahkan cerita tentang kurangnya adab yang disebabkan kurangnya kehati-hatian. Cerita tersebut yaitu berupa kisah seorang pemuda yang mencuri buah setelah melakukan perjalanan jauh. Namun, pada akhirnya pemuda itu sadar akan kesalahannya sehingga pemuda tersebut harus melakukan beberapa syarat untuk mendapat maaf dari pemilik buah.
Cerita tersebut membuat adanya perbedaan pendapat antara sahabat Irsyad dan sahabat Ridwan di mana sahabat Ridwan tidak terlalu mengutamakan sikap kehati-hatian, tetapi lebih mengutamakan sikap kepercayaan yang pada akhirnya disimpilkan oleh sahabat Alfian terkait perbedaan pendapat tersebut.
“Ilmu adalah penggabungan antara sikap kehati-hatian dan percaya. Percaya adalah ilmu yang paling utama. Dalam srawung kahanan sikap kehati-hatian yang diterapkan harus tetap diimbangi dengan adanya rasa kepercayaan, sehingga akan memunculkan pergeseran sifat bagaimana seseorang harus kreatif dalam kehati-hatian dan kepercayaan,” ujarnya.
Diskusi kembali berjalan, tetapi setelah beberapa saat tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 17.30 dan diskusi segera berakhir. Setelah diskusi selesai, beberapa peserta mengikuti sesi foto bersama sebagai dokumentasi kegiatan.


Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar