Hari demi hari Ana menjalani kehidupan dengan rasa yang amat menyesal dalam benak hati karena adanya keadaan yang membuat hatinya terasa terdesak. Ia sering berkaca-kaca pada pusaran mata yang berada di hadapannya adalah kaca untuk memuaskan rasa dalam benak hati agar sifat Ana terasa tenang dalam memuntahkan semua kesesalannya. Ana sudah 3 tahun ditinggalkan sang Nahkoda yang menuntun ia kepada kehidupan yang nyata dan menghapus kesesatan yang dilakukan. Sejak saat itu pikirannya mulai memudar tanpa arah yang jelas dan menjalani hidup dengan ke hampaan dalam hati, hanya gadis kecil di dalam rumahnya yang dapat menenangkan pikiranya setelah terpukul terhadap semua hal yang di alami. Gadis kecil itu sudah dituntun pada kebahagiaan yang sederhana oleh sang perkasa kesatria yang sudah meninggalkan jejak-jejak yang masih teringat dalam pikir memorinya. Lambaian kasih yang di ungkapkan dari celotehan gadis kecilnya membuat hidup Ana lebih istimewa dan cemerlang dalam melangkahkan kaki untuk terus menerus tiada henti ke tujuan awal yang sudah ada dalam pikirannya sejak dulu ketika menentukan visi dan misi dalam berkeluarga yaitu berjanji akan membahagiakan anaknya sampai besar dan membahagiakan sekeliling kehidupan walaupun bertahan hidup dengan kesederhanaan. Merasakan kasih dari belaian gadis kecilnnya, hati Ana terasa tergugah kembali setelah terdiam karena Nahkodanya meninggalkanya 3 tahun berlalu. Kehidupan Ana dan gadis kecilnya sangatlah sederhana dan tidak terlalu istimewa karena kebangkrutan bisnis sang Nahkodanya dan ia pun tidak dapat menjalankan bisnis tersebut. Mereka menjalani hidup bisa dikatakan dengan belah kasihan dari sang tetangga yang masih berhati nurani jernih karena kehidupan yang amat sederhana dalam keluarga kecilnya Ana. Ana menjadi tulang punggung keluarganya yang masih belia tersebut dengan bekerja seadanya sana sini tanpa memikirkan celotehan dari lingkungan sekitar. Ia bekerja dengan penuh harap agar mendapat sebuah kehidupan yang lebih layak dari yang di jalankan saat itu. Rumahnya terkesan sederhana sejak pandangan mata menatap dari luar rumah, hanya jalan setapak yang dapat menuntun ke dalam rumah yang agak singup itu, ketika memasuki rumah di sambut oleh dinding-dinding yang di hiasi oleh wajah figura yang rupawan nan elok yang masih teringat dalam pikiran walau sudah tiada dalam dekapan dan hanya menjadi kenangan belaka. Ana hanyalah wanita yang berparas biasa dan tak terlalu istimewa, dari parasnya yang biasa itu dari jiwanya memancarkan keberaniaan dan kepercayaan yang sangat luar biasa dalam menjalani hidup walau penuh halangan yang selalu membututinya.
Esok hari Ana terbangun dari lelapnya tidur, ia bergegas membangunkan gadis kecilnya yang berada di sampingnya kemudian mengambil air dari bak sumur yang berada di belakang rumahnya untuk menengadah dan mencipratkan air itu ke wajahnya sekaligus untuk mensucikan dirinya agar sah dalam sholat subuh yang akan di lakukan bersama gadis kecilnya. Di dalam renungan do’a bersama gadisnya yang mungil Ana memejamkan matanya yang sering berkedip setiap saat itu agar lebih tentram dan tenang ketika berharap, sambil tangan menengadah sebuah harapan agar menjadi nyata di selingi dengan menempelkan gigi dan menggigit giginya sendiri karena keyakinan hati yang muncul dari relungan hati untuk harapanya pasti akan menjadi kepastian. Matanya berlinang cucuran air mata yang mengalir deras ketika mengucapkan frasa untuk berharap pada sang pencipta. Si gadisnya pun ikut ibunya menangis tersedu-sedu itu dan memeluk ibunya dengan erat penuh kasih sambil mengatakan “Ibu ini semua sudah takdir, kehidupan ini hanyalah sementara, Aku dan Ibu hanya bisa menjalankan seadanya dengan penuh keyakinan pasti kita berdua bisa bu”.
Satu kalimat yang dilontarkan anaknya itu membuat lisan Ana sesaat tak mampu bergerak dan hati Ibunya memikirkan hal itu dengan penuh hayati, Ana sadar anaknya saja bisa selalu tabah terhadap apa yang di jalani saat itu tetapi kenapa dirinya sendiri malahan menjalani kehidupan dengan penuh penyesalan dan tak mampu menerima takdir ini? (Ibunya berbisik pada hati nuraninya sendiri).
Saat itu pun Ana mulai menyadari semua ini dan mulai berpikir menjalani kehidupan lebih hebat dari sebelumnya. Setelah memanjatkan do’a bersama, Ana mempersiapkan makanan untuk gadisnya itu agar saat sekolah tidak lesu dan bisa semangat, Ana hanya mempersiapkan hidangan seadanya yang dapat di cerna dan yang penting halal dari jeri payahnya sendiri. Hanya ikan asin dan setengah piring nasi yang dapat di hidangkan Ana untuk di makan gadisnya karena memang sudah tidak mempunyai apa-apa lagi yang dapat di makan berdua. Hidangan yang tak seberapa itu sebenarnya untuk berdua tetapi Ana rela tidak makan demi gadisnya yang masih belia itu. Gadisnya juga menyadari kalau kehidupanya hanya begini dan sangat sederhana untuk semua kalangan tetapi gadisnya masih bersyukur terhadap apa yang di berikan sang pencipta kepada dirinya dan juga Ibunya. Gadisnya pun menawarkan Ibunya untuk makan bersama walau dengan nasi setengah piring itu, tetapi Ana tetap menunjukan wajah yang tegar di hadapan gadisnya agar gadisnya makan dengan lahap makanan itu. Gadisnya tetap membujuk sang Ibu untuk makan bersama bahkan bersi keras untuk tidak sarapan bila Ibunya tidak mau makan bersamanya. Ana membujuk terus agar gadisnya makan sendiri makanan itu, tetapi gadisnya tetap tidak mau makan bila tidak bersamanya. Alhasil Ibunya dengan terpaksa menemani gadisnya dan makan bersamanya agar gadisnya senang dan bahagia walau hidup dengan kesederhanaan. Ana menyuapkan satu per satu sendok yang sedikit berisi nasi dan sedikit ikan asin kepada gadisnya yang masih berumur 9 tahun itu dengan rasa kasih sayang yang tak dapat di ungkapkan oleh lisan, mereka berdua makan bersama dengan lahap walau hanya setengah piring, mereka menganggap itulah kehidupan yang murni karena penuh dengan rasa kasih yang tiada tara dalam menjalani hidup di tengah kebisingan di dunia ini.
Sekitar jam 05.29 Setelah selesai makan kemudian gadisnya bergegas ke kamar mandi untuk mensucikan dirinya dan Ana langsung pamitan pada gadisya itu karena mau pergi ke ladang, memang Ana sebenarnya tidak tega meninggalkan anaknya sendiri untuk menyiapkan sendiri perlengkapan sekolahan dan pergi ke sekolah sendiri, tetapi apa daya itulah yang harus di lakukan Ana untuk mengais rejeki karena keluarganya sudah tidak mempunyai lahan ataupun ladang sendiri. Gadis kecilnya sudah terbiasa untuk menyiapkan barang-barangnya sendiri ketika mau sekolah ia tahu apa saja yang harus di persiapkan. Sedangkan sang Ibu bergegas untuk bekerja ke ladang orang yang memang ia sudah mempunyai kerja kontrak untuk bekerja, memang gajinya tidaklah seberapa, mungkin kalau di pikir-pikir sangat kurang untuk makan seharian tapi itulah yang di lakukanya untuk menunjang kehidupanya.
*
Pada dasarnya ada hal yang tetap dikejar meski keadaan sudah tak terkejar.. Kisah singkat itu mengajarkan betapa berharganya kehidupan. Hidup adalah perjalanan untuk tetap hidup dan untuk tetap menghidupi. Menjadikan masa lalu sebagai pendorong untuk masa depan bukan penarik masa depan. Inilah kehidupan. Manusia hanya menjalankan, tak mampu memprediksi apa yang akan dijalankan. Tetap, jalani saja kehidupan.
Life is Love, Love is life.
Karya:
Sahabat Rizvi Alvian
(Kader PMII Magelang)

2 pemikiran pada “Gigi Bertulang”
Sangat menyentuh
Mantap