Pedang Sang Kyai

Di salah satu pesantren daerah Jawa Tengah hiduplah dua orang santri yang bernama Zaid dan Ahmad. Mereka merupakan salah satu santri Kyai Hudail. Dalam pesantren yang diasuh beliau metode pembelajaran dibagi menjadi dua. Metode pertama adalah sorogan, metode ini merupakan metode paling ditakuti oleh santri karena santri dituntut untuk menghafal pelajaran dan disetorkan pada guru. Sedangkan metode yang kedua adalah bandongan, bandongan merupakan metode paling diminati santri karena hanya duduk di majelis ilmu sambil mencatat dan mendengarkan materi yang disampaikan. Begitu pula Zaid dan Ahmad, kedua santri tersebut tidak begitu suka dengan sorogan karena harus menghafal. Hingga akhirnya mereka tidak pernah setor hafalan dengan Kyai Hudail.
Kiyai Hudail yang terkenal kebijaksanaannya segera mencari semua santri yang tidak pernah setor hafalan. Dibantu keamanan pondok, Kyai Hudail mengelilingi semua kamar di pesantren. Semua santri terkejut dengan kejadian karena jarang Kyai Hudail keliling kamar pesantren. Malam harinya sebanyak 20 santri dikumpulkan di depan dalem (rumah Kyai). Kedua puluh santri termasuk Zaid dan Ahmad adalah santri yang tidak pernah setor hafalan dengan Kyai Hudail. Semua santri dibiarkan berdiri sambil membaca al-Quran hingga tengah malam. Tepat pukul 12:00 WIB Kyai Hudail keluar dari kediamannya. Semua santri takut karena beliau membawa pedang di tangan kanannya. Ahmad dan Zaid bercucuran keringat hingga kaos yang mereka pakai basah karena keringat. Mereka berdua berpikir bahwa Kyai Hudail akan memberi takziran dengan pedang tersebut semisal dibunuh atau dipotong tangan.
Sesampainya Kyai di tengah-tengah mereka, kyai langsung memerintahkan kepada keamanan pondok untuk mencari besi. Semua santri tambah takut dengan perintah tersebut. Ketika datang, keamanan pondok sudah membawa satu lonjor besi bekas pembangunan kamar tahun lalu. Kiyai memberi dua tiga patah kata, “Santri zaman akhir mengkhawatirkan, semangat mereka untuk mencari ilmu kendur. Seperti kalian ini disuruh setor hafalan malah gak mau. Lihat di tangan saya ada pedang yang sangat tajam”
Kyai Hudail langsung mengambil besi dari tangan keamanan pondok.
“Lihat pedang ini apa yang kalian pikirkan?”
Kiyai langsung menebas lonjoran besi itu beberapa kali hingga besi menjadi pendek.
“Lihat pedang ini, begitu tajam besi saja bisa patah apalagi leher kalian santri yang tidak pernah setor hafalan!”
Semua santri terdiam melihat dan mendengarkan perkataan Kiyai. Di pikiran Zaid hanya mati sedangkan Ahmad tidak bisa berpikir karena terlalu takut dengan apa yang ia lihat.
Setelah menebas lonjoran besi tersebut kiyai masuk rumah untuk mengambil semua koleksi pedangnya. Dibantu keamanan pondok 20 pedang dikeluarkan. Keamanan pondok membagikan satu-satu pedang kepada santri. Mereka tambah berfikir apa yang akan Kiyai Hudail lakukan setelah ini.

“Di tangan kalian ada pedang yang memang saya bagikan kepada kalian. Sebagai takzirkan tidak pernah setor hafalan, pergilah kalian ke belakang pondok. Ada bukit kecil, dakilah. Saya akan menunggu kalian di puncak bukit tersebut besok pagi.”
Bantuan sinar rembulan di kala malam dan angin bukit yang tak begitu kencang semua santri berangkat mendaki bukit. Zaid kewalahan untuk mendaki karena tangannya membawa beban yang bobotnya lebih dari lima kilo. Zaid tidak bisa memanfaatkan pedang itu dengan baik. Sedangkan Ahmad tidak terlalu memedulikan pedang itu, ia membawa pedang tersebut sampai puncak tetapi ia tidak sadar bahwa pedang telah menggores kaki kirinya hingga berdarah tetapi tidak begitu banyak.
Matahari terbit dari ufuk timur, burung-burung perbukitan berkicau ria, nampaknya menyambut baik kedatangan santri Kiyai Hudail. Kiyai yang sudah sampai puncak sebelum semua santri sampai memerintahkan untuk semua santri yang telah sampai segera berkumpul di bawah pohon pinus. Setelah kedua puluh santri berkumpul Kiyai menanyai satu persatu untuk menceritakan apa yang terjadi pada mereka selama perjalanan. Seorang santri menceritakan bahwa ia bertemu ular sedang bergelantungan di pohon kopi, karena takut ia tebas ular itu dengan pedang yang tadi dibagikan. Ahmad menceritakan bahwa kakinya berdarah karena tergores pedang yang ia bawa. Sedangkan Zaid meninggalkan pedangnya di dekat pohon pinus karena terlalu berat jika ia bawa sampai puncak.
Pada akhirnya Kiyai Hudail berpesan kepada dua puluh santri yang tidak pernah setor hafalan.
“Waktu adalah pedang, siapa yang bisa memanfaatkan pedang dengan baik pasti akan berguna. Tetapi bila tidak pedang akan membunuhmu. Begitu pula waktu bila kita memanfaatkan waktu dengan semaksimal mungkin akan sangat bermanfaat. Tapi bila tidak waktumu akan terbuang sia-sia dan akan membunuhmu. Jadi kalian semua saya beri pelajaran seperti ini agar tidak menyia-nyiakan waktu, terlebih saat mondok. Mulai hari ini kalian harus setor hafalan. mondok di sini tidak lama, iya apa tidak?”
Setelah selesai semua santri pulang ke pesantren. Ahmad dan Zaid berjanji tidak akan menyia-nyiakan waktu hingga tiap hari setelah kejadian itu mereka berdua sering setor hafalan paling awal dengan kiyai Hudail.

Karya Sahabat Ep

(Kader PMII Rayon Raden Santri)

Tinggalkan komentar