Krisis Daya Analisis

Masa berganti masa menjadi hal yang patut dilihat dengan mata terbuka. Peralihan masa sebuah hal yang lumrah untuk memperbaiki ataupun menciptakan masa depan lebih baik. Setidaknya, masa yang telah lewat bukan hanya menjadi masa yang telah lalu kemudian dibiarkan begitu saja. Dari kata-kata banyak orang, katanya “Masa kini tercipta dari masa lalu”. Sepakat atau tidak memang benar kata tersebut adanya.

Kemudian, seharusnya dan sebagai kewajiban orang yang hidup di masa kini harus paham betul terkait masa lalu. Selanjutnya, apa yang perlu disiapkan untuk memahami apa saja yang terjadi di masa silam.

Sebelum pertanyaan itu muncul, niatkan baik-baik dari segi akal dan panca indera Anda. Karena adanya sesuatu mesti akan terhubung dua hal tersebut (akal dan panca indera). Realitas saja ketika melihat sesuatu, itulah pegangan awal. Dan kenapa judul tulisan ini krisisnya daya analisis. Penulis hendak menyampaikan beberapa hal karena sedikit gregetan dengan masa sekarang, khususnya kader yang hanya haha hihi. Setidaknya keluh kesah terluapkan dalam tulisan, syukur-syukur dapat dibaca kemudian ditangkap oleh (akal dan panca indera) pembaca.

Mulai dari contoh sederhana, ada sebuah kata “Ada uang kertas”. Mencoba untuk menyederhanakan kata tersebut menjadi subjek, objek, dan keterangan.

  1. Mata melihat uang
  2. Akal melihat kertas
  3. Ada menyaksikan ada

Mata ; subjek

Akal ; subjek

Melihat ; objek

Ada ; subjek

Menyaksikan ; objek

Mata sebagai panca indera melihat uang, karena realitasnya memang uang. Nyata di depan mata dan nyata adanya

Kemudian, akal melihat kertas. Tidak semua kertas adalah uang, namun yang ada di depan mata adalah uang kertas bukan uang koin. Maka dari itu akal berperan untuk berpikir, bahwa kertas tersebut adalah uang.

Selanjutnya ada menyaksikan ada. Ada ya ada, nyata adanya.

Lanjut ke topik dari paragraf ke dua diatas, saya beri contoh kembali; “Ada PMII Tidar”. Dari ketiga kata tersebut, bagaimana sudut pandang (akal dan panca indera) melihatnya.

Begini, mencoba untuk menafsirkan dari kata per kata.

A. Mata melihat Tidar

B. Akal melihat Pmii

C. Ada Menyaksikan ada

Pasti pembaca bertanya-tanya, kenapa kok begitu?

Ingat, topik kita memperjelas peran akal dan panca indera sebelum memahami apa yang terjadi pada masa silam.

Mata berperan sebagai panca indera. Kenapa mata melihat Tidar? Sangat jelas adanya kesepakatan wilayah Tidar, maka dari itu mata dapat melihatnya jikalau Tidar itu ada. Dapat dibuktikan secara realistis dan dapat dilihat secara terbuka dan mata melihatnya. Diperkuat lagi adanya kampus Untidar maka ada PMII Tidar dan mata melihat Tidar, itu point pertama

Akal berperan sebagai pikiran/akal/berpikir. Kenapa akal melihat PMII? Akal sebagai peran pikiran berfungsi untuk berpikir, dan PMII sebagai hal yang perlu dipikir terlebih dahulu. PMII mana yang dimaksud, PMII seperti apa, kenapa PMII, kapan ada PMII dan lain sebagainya. Karena masih belum jelas dan perlu sebuah pemahaman dari kesepakatan bersama, maka PMII masuk pada akal, bukan panca indera.

Kemudian ada menyaksikan ada. Maksudnya, ada ya ada. Terbukti ada ya di situlah adanya. Sekali lagi, bukan takdir, tapi “ada”, terbukti dengan realitas.

Menganalisis sesuatu jangan terpaku pada takdir, nanti peran akalnya tidak difungsikan bagaimana?

Nah, bagaimana sudah sedikit paham bagaimana untuk memperkuat (panca indera dan akal)?

Lanjut ke topik pertanyaan pada paragraf 2 “Apa yang perlu disiapkan untuk memahami kejadian masa silam?”

Ingat sahabat-sahabatku yang tersayang, kita harus sabar ketika memahami sesuatu apa pun itu, apa lagi terkait masa lalu. Butuh tenaga dan pikiran yang lebih, butuh analisis yang kuat, persiapan, dan mental yang tangguh. Apakah sahabat-sahabat siap?

Lanjut kembali, untuk memahami lebih lanjut dibutuhkan analisis yang kuat. Ingat, analisis tidak hanya analisis SWOT saja sahabat, ada banyak metode analisis. Instrumen untuk memperoleh data sebagai acuan untuk mendapat pengetahuan juga ada banyak, seperti halnya metodologi, insting, analisa, alur, dan lain sebagainya.

Baiklah, kita ambil instrumen analisis saja sebagai bahan dasarnya karena mengingat judul dari tulisan ini terkait daya analisis.

Analisis ada cabangnya ;

  1. Analisis deskriptif, yaitu untuk memperoleh data kuantitatif (data statistik).
  2. Analisis regresi, yaitu untuk menganalisa prediksi atau masa depan dengan melihat faktor, data, dll.
  3. Analisis wacana, yaitu untuk menganalisis interaksi yang berhubungan dengan orang-orang
  4. Analisis faktor, yaitu menyederhanakan beberapa variabel yang berhubungan dengan data.
  5. Analisis SWOT

Mungkin ada lagi dan tidak perlu saya tuliskan, coba sahabat cari sendiri.

Lanjut ke pertanyaan yang belum terjawab, “Apa yang perlu disiapkan untuk memahami kejadian masa silam?”.

Jika sudah paham dengan metode-metode di atas, menggunakan instrumen apa untuk menjawabnya? Pertanyaan tersebut erat kaitannya dengan sejarah, maka dari itu butuh informasi yang banyak. Apakah cukup menggunakan metode analisis faktor, dimana menyederhanakan beberapa variabel saja? Tidak sahabat.

Dalam tulisan (Wasino dan Hartatik S E,  2018) yang diterbitkan oleh Magnum Pustaka Umum dijelaskan mengenai metode penelitian sejarah. Jikalau ada waktu, coba sahabat membaca terlebih dahulu untuk memahaminya.

Garis besarnya mengenai metode penulisan sejarah ada sendiri metodenya.

Baiklah, kita sepakati bersama untuk instrumen yang akan digunakan adalah dengan instrumen alur. Alur atau flowchart adalah diagram langkah-langkah dan keputusan untuk menentukan sebuah program.

Langkah awal dalam metode penulisan sejarah adalah

A. Heuristik ; Pengumpulan sumber-sumber informasi

B. Verifikasi ;  Pengujian keaslian

Verifikasi terbagi menjadi dua, yaitu :

  1. kritik internal ; kritik kredibilitas/ fakta diantara sumber informan
  2. kritik eksternal ; kritik aspek pembuat bahan sampai pembuktian keaslian, dan waktu penanggalan.

C. Interpretasi ; Proses menganalisa sumber sejarah

D. Historiografi ; Penulisan sejarah

Sederhananya cukup terlebih dahulu ya sahabat. Selanjutnya dibahas bersama dengan sahabat yang lain untuk menjawab dan menemukan persoalan dan jawaban dengan topik yang baru dengan instrumen-instrumen yang tersedia.

Tulisan ini hadir atas keluh kesah diskusi dalam satu lingkar bersama sahabat demit-demit beskem.

Salam dari Pojok Beskem Komsat!

Salam Pergerakan!!

Oleh: Sahabat Rizvi Alfian

(Kader PMII Magelang)

Satu pemikiran pada “Krisis Daya Analisis

Tinggalkan komentar