Kisah ini berlatar pada zaman dimana api dan air menjadi kekuatan dari manusia. Kekuatan itu diberikan turun temurun kepada keturunan mereka saat masih berumur dua tahun. Semua orang yang mempunyai kekuatan api maupun kekuatan air, bertempat tinggal di sebuah negeri yang sekarang kita sebut China. Yang mana, di masa itu, Kerajaan Api dan Kerajaan Air selalu berperang. Mereka ingin menghancurkan satu sama lain.
Namun, perang besar antara Kerajaan Api dan Kerajaan Air sudah lama terjadi, tepatnya dua puluh tahun lalu. Perang yang terus menerus selalu ada. Perang yang kala itu mengakibatkan banyaknya pasukan hebat dari Kerajaan Air gugur. Kerajaan Api menang kala itu. Bahkan panglima perang Kerajaan Air, Way telah kalah. Way adalah ayah dari kakak beradik yang tengah bermain–ketika ibunya diberitahu bahwa ayah dari dua kakak beradik itu telah gugur dalam perang. Ibunya terisak. Kedua anak itu mendekatiya. Tak mengerti mengapa ibunya menangis.
Kini, kedua kakak beradik itu telah menjadi remaja. Tumbuh dewasa dan menjadi hebat melalui bimbingan ibunya dan Guru Chi. Guru yang mereka temui setelah mengembara, karena ibu mereka telah meninggal ketika masing-masing dari mereka berumur sepuluh dan sembilan tahun. Kakak beradik itu adalah Fan dan Min. Sekarang, Fan sudah menjadi seorang laki-laki berumur dua puluh lima tahun dan Min tumbuh menjadi seorang perempuan dua puluh empat tahun. Itu artinya mereka telah hidup dengan Guru Chi selama 15 tahun. Mereka telah menjadi sepasang kakak beradik pendekar yang hebat. Banyak sekali orang yang telah ditolong oleh Fan dan Min, hingga masyarakat menyebut mereka pendekar Fam. Pendekar muda hebat yang selalu menolong sesama. Fan dan Min seperti pahlawan bagi banyak orang.
Di lain kisah, suatu hari Min terperangkap di gua karena menghindari serangan dari salah seorang prajurit Negara Api. Ia terluka, Fan menyusulnya. Fan berkata kepada Min, kalau perang Kerajaan Api dan Kerajaan Air sudah berakhir. Ia bercerita telah bertemu dengan Raja Air yang memintanya untuk menjadi panglima perang Kerajaan Air pada perang yang akan mendatang. Sang Raja juga meminta Fan dan Min untuk tinggal di istana.
“Bagaimana dengan Guru Chi?” tanya Min.
“Guru Chi punya padepokan. Dan murid-muridnya juga akan tetap di padepokan. Beliau akan menjadi guru dari calon-calon pendekar di negeri ini. Bahkan gurulah yang memaksa kita untuk tinggal di istana”
“Tapi Guru Chi terlalu baik…”
“Kita akan pulang setelah perang berakhir”
Fan tersenyum hangat. Memahami Min yang sudah sangat menyayangi Guru Chi– yang merawat mereka sedari kecil hingga sebesar ini. Min mengangguk tersenyum.
Fan dan Min tinggal di Istana sudah tiga bulan. Tiga bulan yang sibuk, karena hari-hari mereka hanya untuk latihan agar kekuatan mereka semakin besar. Selama tiga bulan juga, mereka mengenal banyak orang di Istana itu. Termasuk putri Kerajaan Air, Putri Shin. Seorang putri cantik dan baik hati yang mencintai Fan dengan baik. Anggun sekali melihat Putri Shin yang diam-diam selalu melihat Fan, kemudian tersenyum indah. Namun, Fan selalu diam menunduk ketika Raja Air menjodohkan Fan dan Putri Shin. Min selalu menggoda kakaknya itu tentang Putri, Fan tak mau dengar, melempari Min dengan air dari tangannya. Min pun sebaliknya. Saling melempari air. Tertawa. Hingga, dentuman air itu berbunyi, menandakan satu Minggu lagi perang akan terjadi.
Perang antara Kerajaan Api dan Kerajaan Air telah dimulai kembali. Perang, sebelum perang besar. Fan sebagai panglima Kerajaan Air dan Pangeran Zu sebagai panglima dari Kerajaan Api, berhadapan. Min terluka, namun tak separah Fan. Shin merawat Fan dan Min dengan baik serta sabar. Hingga Min sadar. Betapa bahagianya Fan jika ia benar-benar menikah dengan Putri Shin. Menangis terharu, tersenyum. Terasa sakit namun ia bahagia bahwa kakaknya telah menemukan seseorang yang tepat.
Dua minggu sebelum perang besar terjadi, Fan dan Min pergi latihan ke hutan. Mendirikan gubuk, fokus latihan selama satu minggu dengan bantuan Guru Chi yang akan memberikan seluruh ilmu kekuatannya untuk mereka–termasuk ilmu kekuatan utama yang ia miliki. Hingga Fan dan Min telah menguasai semuanya. Mereka berterima kasih dan pamit kepada Guru Chi, izin menuju istana kembali.
Fan dan Min yang masih dalam perjalanan menuju istana, dihadang Zu dan anak buahnya, ia menantang Fan dan Min untuk bertarung. Fan dan Min tak mau. Zu sudah menyerang, mereka berempat bertarung. Dan berhenti ketika anak buah Zu tiba-tiba berlari pergi setelah melukai Fan. Zu bahkan bingung mengapa anak buahnya tiba-tiba pergi. Zu mengikutinya. Min menuntun Fan pulang ke istana.
Musim gugur. Musim yang indah dan menentramkan hati. Musim yang tak secantik musim semi, tak sedingin musim dingin dan tak sepanas musim panas. Tapi musim dimana daun-daun kering jatuh dan beterbangan oleh angin yang lembut yang membuat hati kita tentram, menjadi lebih mengerti dan lebih menerima akan semua kejadian di separuh hidup kita yang pernah kita lewati. Berdamai dengan semuanya. Membuat kita tenang.
Seperti saat tiga hari sebelum perang besar datang, Fan dan Min berjalan di antara dedaunan yang gugur. Menenangkan hati mereka yang gugup akan perang besar yang akan terjadi tiga hari lagi. Gemerisik daun-daun kering yang terinjak kaki menjadi cukup untuk mengiringi keheningan antara Fan dan Min– yang menenangkan diri mereka, dengan berjalan-jalan melihat indahnya musim gugur hanya dengan diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Zu marah pada Feng–anak buah yang meninggalkannya saat bertarung. Zu marah dan selalu bertanya pada Feng, mengapa ia meninggalkannya–yang selalu saja dijawab tundukan takut. Namun, Feng selalu diam. Hingga perang besar tinggal tiga hari lagi. Feng berani mengatakannya. Menceritakan bahwa dulu ia adalah anak kecil yang melihat dan menolong pangeran Kerajaan Api pertama, saat dulu dihanyutkan ke sungai oleh selir yang merupakan ibu dari Zu. Bayi Kerajaan Api sangat rentan terhadap sungai. Ibu selir mengira Pangeran Api pertama sudah meninggal dan langsung pergi, Feng merasa tidak tega yang sedari tadi mengintip, langsung segera menyelamatkan bayi pangeran api pertama dari sungai. Nafasnya begitu lemah. Feng berlari menuju rumahnya.
Bayi itu masih bisa diselamatkan kala itu, ayah Feng yang seorang tabib hebat hampir saja kehilangan kesempatan itu, jika ia tak menemukan ramuan langka yang diwariskan keluarganya. Ayah Feng takut akan keselamatan bayi itu, dan Feng akan menjadi taruhan jika bayi itu dikembalikan ke raja, lalu selir mengetahuinya. Akhirnya, ayah Feng menyuruhnya untuk meletakkan bayi itu ke penduduk Negeri Air. Berharap ada seorang baik yang mau mengasuhnya.
Beberapa tahun kemudian, Zu lahir. Pangeran yang kelak akan diangkat menjadi raja, karena pangeran pertama Kerajaan Api telah dianggap hilang.
Pangeran api pertama itu adalah Fan. Bayi yang telah ditemukan di depan rumah ayah dan ibu dari Min ketika mereka membuka pintu. Memutuskan mengasuh, memberi nama, dan memberinya kekuatan air ketika ia berumur dua tahun sesuai tradisinya. Dan Feng bisa merasakannya, ia pernah menyentuh darah Pangeran Api pertama, saat masih bayi, dan saat pertarungan singkat di hutan. Yang secara tidak sengaja menyentuh darah Fan, ia merasakannya. Bahwa Fan adalah Pangeran Api pertama yang ia selamatkan.
Feng memohon pada Zu agar tak melanjutkan perang besar besok, atau jika perang besar besok tetap terjadi, jangan sampai Zu membunuh Fan. Karena ada sebuah mitos dalam Kerajaan Api, yang mengatakan bahwa jika ada kakak beradik keturunan raja di Kerajaan Api saling membunuh, atau ada yang membunuh saudaranya sendiri, ataupun membuat kritis saudaranya, maka akan ada bencana di seluruh daratan China ini. Zu tertawa, tidak mungkin pangeran api pertama masih hidup dan mitos tetaplah mitos. Bukan suatu yang benar-benar akan terjadi. Paling penting, ia mencintai putri Shin, jika ia tak membunuh Fan maka Fan akan menikah dengan Putri Shin.
Zu tentu saja mengetahui mitos itu. Red rain. Hujan merah yang tidak lain adalah darah. Hujan darah di seluruh daratan China. Tapi ia punya solusinya. Setelah red rain selesai, ia akan mengaruhkan seluruh pasukan dan rakyatnya untuk membersihkan bekas red rain. Namun, ia masih belum mempercayai bahwa Fan adalah Pangeran Api pertama, Zu tertawa. Ia akan tetap membunuh Fan, membereskan red rain jika itu benar-benar ada, dan menikahi putri Shin. Menjadi penguasa dua kerajaan besar di daratan China. Zu kembali tertawa. Feng harus tetap ikut perang, kekuatannya diperlukan, Zu memaksa Feng untuk tetap ikut dan menyuruh Feng membunuh Fan supaya red rain tidak terjadi.
Perang besar terjadi. Fan berlari sambil melemparkan kristal air tajam yang banyak ke arah pasukan api, melewati mereka dengan mudah. Berhadapan dengan Zu, Zu menatapnya ganas. Mereka semua sama-sama menggunakan pedang dengan kekuatan masing-masing, pedang api dan pedang air kristal. Feng hadir menyerang Fan, Min membela Fan, mereka saling melindungi. Feng memutuskan membunuh Min terlebih dahulu. Bertarung sengit, Feng yang melemparkan bola api besar yang mengarah Min namun di halangi oleh bekuan air yang ia lemparkan juga, namun Min kalah cepat, Feng begitu berambisi dan cepat melemparkan bola api, Min terluka. Feng langsung menuju Fan, ia tidak akan membiarkan red rain ada di daratan China itu sangat berbahaya, biarlah ia yang membunuh Fan. Zu yang sudah tampak sangat berambisi membunuh Fan terus melayangkan pedang apinya ke Fan. Fan terus mencegahnya dengan pedang, kristal, tameng air yang dibekukan, membuat pembekuan di tubuh Zu sehingga sulit bergerak namun tak bertahan lama yang mana langsung bisa ia lelehkan dengan api. Feng mencegah Zu yang hampir melayangkan pedangnya ke Fan. Zu sangat marah mengarahkan pedang ke Feng yang kaget dan langsung meninggal karena pedang api itu. Fan, merasakan keganjalan itu namun ia lebih memilih mencari Min.
Min yang sedang mengobati lukanya di belakang batu besar merasa kakaknya mendekat, ia menyeret Fan ke tempat persembunyiannya. Min tersenyum, menyemangati kakaknya. Fan hampir menangis karena ia tahu luka Min besar, namun ia masih tersenyum dan menyemangatinya, mengobati lukanya. Min membisikkan bahwa mereka pasti bisa. Fan izin ke tempat peperangan. Zu yang langsung menyerang ketika melihat Fan berjalan ke arahnya dan Fan mengarahkan seluruh kristal air tajam ke arah Zu, Zu yang hampir kewalahan menghadapi kristal air dan pedang air Fan memutuskan mengeluarkan kekuatan naga apinya. Fan juga mengeluarkan naga airnya. Mereka saling menyerang, Fan kali ini selalu menang dalam taktik dan kekuatannya, Zu terluka, menoleh, tiba-tiba berlari.
Min yang sudah bangkit dan ikut membela negerinya melawan para prajurit api, memberontak karena dengan cepat ia ditangkap Zu. Zu meletakkan mata pedang di depan leher Min. Mengancam Fan agar meletakkan pedang air dan seluruh air yang ia simpan. Zu semakin mendekatkan mata pedangnya ke leher Min. Min meringis ngeri, tetapi ia tetap meggeleng-gelengkan kepalanya, menyuruh Fan tetap berjuang demi negeri air dan membiarkan Min ditebas pedang demi membela negeri Air. Min tak apa.
Fan mengangkat pedang airnya. Berseru. Berlari ke arah Zu dan Min. Tapi seketika jatuh terduduk ketika leher Min mulai berdarah. Fan menyerah. Tak akan pernah tega melihat adik kesayangannya meninggal,. Zu tertawa puas. Mengangkat pedangnya cepat dan langsung menusuk perut Fan dengan keji. Min berlari langsung mencabut pedang api Zu. Menyandarkan Fan di bebatuan. Mencoba mencari ramuan obat. Menangis agar Fan tetap bisa bertahan. Mencoba mengobati Fan dengan kekuatannya. Fan begitu kritis. Red rain. Hujan itu hanya tiga detik, namun dari hujan merah itu, dedaunan gugur menjadi merah. Tanah, pohon, dedaunan, rumput, bunga, istana, rumah penduduk, dan semua di daratan China ini menjadi berwarna merah.
Semua orang berhenti beraktivitas. Perang telah berakhir. Dedaunan merah berguguran. Angin berhembus begitu lambat. Alunan angin yang menyakitkan. Membuat bulu kuduk berdiri. Zu tertawa lebar tak menghiraukan tatapan bingung semua orang. Termasuk tatapan bingung Min yang menatap Fan. Fan meringis sakit. Mencoba tersenyum. Pintar merangkai semuanya. Menyadari bahwa ia adalah pangeran api pertama. Mitos itu nyata. Red rain itu nyata. Min terus berusaha menutupi luka di perut Fan agar darah itu tak terus keluar, mencoba mengobatinya. Min terus menangis, kali ini ia tak bisa tersenyum. Sakit sekali melihat Fan terluka seperti ini, apalagi itu karenanya. Mim terus menangis. Fan menatap Min hangat, mengusap air mata Min. Mencoba tersenyum meski terasa sakit sekali
“Kau tahu Min, aku mencintai seorang yang berhati baik, ceria, kuat, cantik dan semua yang ada pada gadis itu. Kukira aku telah berdosa karena aku telah mencintai adikku sendiri dari dulu. Dan sekarang aku bahagia karena ternyata kau bukan adikku. Dan aku juga tidak berdosa karena telah mencintaimu dari dulu. Hingga kapanpun, aku mencintaimu Min,” kata Fan, menatap Min dengan senyum hangat.
Fan semakin melemah, Fan telah pergi. Pergi untuk selamanya. Min semakin terisak. Semua perkataan Fan dan red rain cukup jelas untuk memberi tahu Min, dan mungkin semuanya juga tahu penyebab red rain. Fakta bahwa Fan adalah pangeran api pertama yang hilang. Semua bayangan kebersamaan Fan dan Min terus membelenggu hati dan pikiran Min, yang mana hatinya begitu bertambah sakit.
Zu salah besar jika ia menganggap bisa membersihkan red rain. Karena selamanya, daratan China akan tetap merah sebab red rain. Zu yang masih tersenyum lebar mengira ia telah memenangkan perang, semua orang yang takut da bingung dan Min yang masih menangis di samping Fan. Tiba-tiba Guru Chi datang di depan Min. Membisikkan sesuatu. Beberapa saat kemudian Min mengangguk. Mengangkat tangannya ke arah langit dan awan yang merah. Mengeluarkan kekuatan air biru menuju langit dan awan yang merah. Memejamkan mata. Konsentrasi secara penuh. Membuat lingkaran biru di tengah merahnya langit. Lingkaran biru itu semakin besar dan terus membesar. Menetralkan semuanya. Itulah kekuatan utama yang Guru Chi berikan pada Fan dan Min saat itu. Kekuatan menetralkan red rain, yang juga beresiko besar. Kekuatan menetralkan red rain yang dikeluarkan, akan membunuh semua orang yang ada di daratan China. Kecuali orang yang mengeluarkan kekuatan itu dan bayi-bayi yang belum berumur dua tahun. Itu artinya kekuatan air dan api akan hilang di daratan China ini.
Saat itu Guru Chi membisikkan agar Min yang mengeluarkan kekuatan utama itu karena Min masih punya masa depan yang panjang. Sedangkan jika ia yang mengeluarkan kekuatan itu, Min akan meninggal. Maka dari itu ia memaksa Min untuk mengeluarkan kekuatan itu. Min yang tadinya menolak akhirnya menurut. Karena jika red rain terjadi sudah lebih dari dua belas jam, red rain tidak akan pernah bisa dinetralkan dengan kekuatan itu. Dan semua orang akan tersiksa dan meninggal satu persatu karena oksigen dari tumbuhan merah karena red rain, itu beracun. Semua orang akan tersiksa.
Daratan China telah kembali seperti semula. Semua mayat manusia telah hilang seiring netralnya red rain kecuali Fan, yang Min lindungi dengan kekuatan netral sekuat tenaga. Dengan semua bayi yang belum berumur dua tahun yang hidup tercukupi segalanya karena kekuatan penetralan itu berkelanjutan dan bisa dikendalikan Min, bayi-bayi itu hidup semakin besar dan dewasa tanpa adanya kekuatan dan tanpa kerajaan api juga kerajaan air. Min memutuskan tidak memberikan semua kekuatan airnya. Tidak akan sanggup bila peperangan kekuatan itu ada lagi. Bukankah kedamaian selalu diidam-idamkan manusia. Merekalah yang kelak menjadi nenek moyang di daratan China ini. Dan mayat Fan dan juga Min yang semakin tua dan meninggal di tempatkan di tempat yang berdampingan.
Karya: Sovi Puji Utami
Seorang yang ingin mengabdi di pedalaman dan berkeliling Indonesia untuk mencari pengalaman dan pembelajaran namun belum diperbolehkan, doain ya, doa baik pasti kembali :’)
(Kader PMII Komisariat Tidar)
