Nama lahirnya adalah Darmawan Subagio. Anak tunggal keturunan priayi. Ibunya priayi. Ayahnya saudagar. Sedari lahir sudah hidup berkecukupan. Umur tujuh belas tahun, kedua orang tuanya meninggal karena kebakaran. Ia akhirnya hidup seorang diri bersama sisa harta kedua orang tuanya. Umur dua puluh satu tahun Darmawan pindah ke kota untuk bekerja.
Suatu hari, di sebuah warung pecel lele, ia bertemu dengan gadis muda yang cantik jelita. Ia jatuh cinta kemudian menikahi gadis tersebut. Mereka hidup bahagia, kendati bertahun-tahun belum juga dikaruniai seorang putra. Darmawan, menghabiskan waktu berderma ke panti asuhan, kendati istrinya terkadang berat hati dengan kebiasaan suaminya itu. Darmawan berpikir bahwa bersedekah ialah salah satu jalan untuk membahagiakan orang tuanya di alam kubur. Dan ia memang benar. Sang istri pun berakhir mendukungnya dengan sabar.
Namun, nasib hidup seseorang tiada yang tahu. Di usia empat puluh tujuh tahun, rumahnya dikunyah si jago merah. Api itu bersumber dari sebuah lilin yang sudah lelah berdiri dan memutuskan untuk rebah ke sekarung padi. Bara menyebar dengan antusias melahap semua yang ada di sekitarnya. Darmawan yang tengah dan istrinya tak sadar, bahwa sebagian rumah mereka sudah membara. Beberapa warga yang sedang meronda, menyaksikan rumah Darmawan berkobar dengan penuh gairah pun berhamburan seluruh harta bendanya lenyap. Juga istri yang sangat dicintainya itu. Darmawan bangkrut dan menduda. Karena sudah tidak memiliki apa pun di kota, ia pun memilih untuk kembali ke desa.
Di desa, sebenarnya ia pun sudah tidak memiliki apa pun. Sebab, seluruh hartanya sudah ia bawa ke kota. Binatang ternak, tanah, dan rumahnya pun sebagian besar sudah ia bagi-bagikan kepada orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan. Dan ternyata, hal tersebut memicu kecemburuan keluarga besarnya. Darmawan berpikir kalau keluarga besarnya sudah memiliki segalanya. Ia pun dikucilkan. Dan orang-orang yang dibantunya dulu, hanya sekali dua kali saja membantu kehidupannya. Ia kembali meninggalkan tempat lahirnya tersebut dan memilih untuk berkelana.
Hingga akhirnya ia datang ke sebuah desa. Dan ia mengganti namanya menjadi Tentrem, dengan harapan hatinya akan tenteram selalu, meskipun ujian berat menggelayuti bahunya. Di desa tersebut, ia tidur di pos ronda dan membersihkan badan di kali tak jauh dari tempat bernaungnya. Terkadang, warga desa tersebut mengajakkannya untuk ikut bekerja. Entah ia disuruh untuk menggembala ternak, mencari rumput, atau bahkan membersihkan kandang. Semua itu ia lakukan dengan penuh rasa syukur, kendati terkadang ia sangat ingin kembali ke masa-masa dahulu. Hidup berkecukupan dengan istri yang mendukungnya selalu.
Warga desa tersebut tidak tahu kalau Tentrem adalah seorang priayi. Kendati ia sudah tidak memiliki harta benda, tetapi tindak tanduknya tetap bagaikan priayi. Priayi yang terhormat. Sehingga, meskipun ia gelandangan, tetapi warga desa tetap memiliki rasa segan pada dirinya. Entah karena parasnya yang masih terlihat rupawan, entah karena tubuhnya yang masih tampak gagah, entah karena sifatnya yang andhap asor atau pada pembawaannya yang berwibawa.
Tentrem alias Darmawan Subagio. Meskipun di desa itu ia termasuk ke dalam jajaran kaum duafa, Tentrem masih suka berbagi. Ia tetap menjadi Darmawan Subagio sang priayi yang gemar bersedekah. Ketika ia mempunyai uang dari hasil kerja buruhnya, ia sering menyisihkan sedikit uang untuk membeli bahan yang kemudian ia jadikan mainan untuk anak-anak di desa tersebut. Entah itu gasing, layangan, atau bahkan wayang kertas–jika ia kebetulan mempunyai uang yang lumayan banyak. Ia menyukai anak-anak. Dan anak-anak beserta orang tua mereka menyukainya. Dalam lubuk hatinya, Tentrem merindukan sosok anak yang ia nantikan sejak ia menikahi almarhumah istrinya itu. Namun, Tuhan belum berkehendak. Ia menerimanya. Ia tetap mencintai istrinya itu sampai tak lagi bernyawa.
Di desa itu pula, ia hidup bernaung di pos ronda. Tidur beralaskan kayu lapuk yang berjajar. Berselimut sarung lusuh pemberian seorang lelaki tua yang meninggal beberapa bulan lalu setelah ia pulang dari berhaji. Makan dari pemberian warga. Pun tak jarang tidur dengan orang gila, yang ketika membuka mata langsung menjerit sejadi-jadinya. Melempari Tentrem dengan benda-benda di sekitarnya dan berteriak, “Setan! Ojo nyedaki anak bojoku! Ojo njikuki bondo dunyaku!,” berulang kali. Hingga orang gila itu harus diguyur air oleh penduduk desa yang merasa terganggu suasana paginya. Tentrem hanya bisa menatapnya dengan iba. Ia berpikir, mungkin si gila adalah gambaran dirinya jika ia memilih jalan yang berbeda.
Setelah hidup bertahun-tahun di pos ronda, tanpa menjadi bagian resmi dari masyarakatnya, kesabaran Tentrem akhirnya berujung manis. Seorang dermawan dari desa tersebut memberinya tempat tinggal berupa gubuk kecil bekas kandang kambing. Kambing-kambing itu sudah dijual ke saudagar di kota untuk kemudian di jual lagi ke restoran maupun ke warung-warung tongseng. Dan lagi-lagi Tentrem bersyukur. Ia mengucapkan terima kasih kepada sang dermawan. Gubuk itu berdinding gedhek dan bau tahi, tapi ia segera membersihkannya. Ia membuat jendela dengan membobol dinding anyaman gubuk itu agar sirkulasi udara dapat berganti. Memasangi amben tua yang berdecit dengan karpet bekas pemberian tetangga. Dan mengisi meja dengan satu buah kendi yang ia beli ketika di pasar pagi. Dan Tentrem pun memulai kehidupannya kembali
Hari-hari ia habiskan untuk bekerja. Dan pekerjaan yang paling ia minati ialah membuat mainan dari kayu– yang ia dapatkan dari hasil memburuh, kemudian berkeliling desa untuk menjualnya. Ia senang bertemu anak-anak. Ada kebahagiaan tersendiri ketika ia menghaluskan kayu untuk dijadikannya gasing, lalu beberapa bocah memainkannya. Itu menjadi pelipur lara bagi dirinya yang kesepian. Salah satu hal yang membuat ia semakin menyayangi anak-anak di sekitarnya ialah karena Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga menyayangi mereka. Dengan eman terhadap anak-anak, Tentrem merasa dunianya lebih indah dan menyenangkan, meskipun ujian berat terkadang tiba-tiba datang. Sejatinya, kebaikan yang kita beri untuk orang lain, akan kembali pada diri kita sendiri, teguh Tentrem.
Suatu malam, pernah saat ia sedang tidur, ada dua pencuri yang masuk ke dalam rumahnya. Rumah Tentrem yang seperti kandang itu, tampak aman untuk bersembunyi pencuri. Warga berlarian dari ujung desa. Mereka membawa obor dan benda-benda tajam lainnya. Salah seorang warga yang membawa obor melihat pencuri itu memasuki rumah Tentrem. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memasuki gubuk reyot itu. Api mulai menjalar. Beruntung warga lain sadar dan langsung mengambil air dari sumur terdekat untuk memadamkannya. Alhasil, gubuk kecil Tentrem terbakar sebagian dan maling-maling itu melarikan diri diam-diam. Sisi baiknya, warga yang merasa berdosa pada Tentrem yang tua pun bergotong royong mendirikan rumah sederhana untuknya dari anyaman-anyaman bambu lagi.
Hampir sebulan Tentrem merasa ketakutan ketika melihat api. Api yang telah melenyapkan orang tua dan istri yang ia cinta. Api yang melenyapkan kekayaan yang ia punya. Api yang telah membuat Tentrem merasa kehilangan segalanya. Hampir sebulan pula ia selalu berkeringat dingin dan gemetar ketika melihat api, kendati api itu hanya sekecil biji jeruk. Ia tak mau tidur dengan obor dan memilih untuk menyarungi diri dengan kegelapan. Ia tak mau masak sendiri dan lebih memilih untuk membeli makan. Bahkan ia selalu menghindari bapak-bapak maupun pemuda yang tengah merokok. Tentrem sedang membenci api.
Namun, ketika ia melihat seorang anak kecil menjerit sebab terjebak dalam gedung berapi, ia langsung menyelamatkannya. Kaki dan tangan anak kecil itu melepuh sejadi-jadinya. Tentrem nelangsa. Namun, dampak baiknya, justru sejak saat itu, dirinya bisa kembali berdamai dengan api, sebab ia menyatu bersamanya. Tentrem bahagia.
Karya Artemis
(Kader PMII Komisariat Tidar)

Masyaallah, sungguh mulia hati si Darman Subagio ini. Meskipun dia dicaci, dimaki, bahkan dibenci keluarga besarnya, dia selalu bersabar dan tetap berderma. Tapi aku greget sama keluarga besarnya ya, padahal udah dibagi hartanya dia, tapi kenapa mereka malah membencinya. Mereka tidak melihat saat dia memberikan hartanya kepada mereka. Mungkin itu adalah sisi gelap keluarga mereka kali ya. Nauzubillah.