Sujatmi namanya, dia meninggal beberapa minggu yang lalu. Dari awal kematiannya, orang-orang di kampung kami diteror arwahnya. Biasanya arwah Sujatmi berwujud pocong lotak, tetapi terkadang dia juga menampakkan diri dengan wujud asli, rambutnya menjuntai sampai tanah dan pakaian yang dikenakan berwarna putih panjang. Baunya anyir dengan wajah penuh luka menganga. Lantas apa yang menjadi asal muasal arwah PSK itu gentayangan?
Benar, kamu jangan terkejut Sujatmi adalah pekerja seks komersial (PSK). Semua orang di kampung kami pun sudah mengetahuinya. Namanya akan berubah menjadi Tami ketika dia sedang bekerja. Dia lahir dalam keluarga yang kurang mampu. Menjadi kupu-kupu malam sebutan trennya adalah jalan akhir yang harus dilakoninya. Ayahnya meninggalkan dia dan ibunya tanpa sebab sejak usianya masih belia. Menginjak remaja ibunya meninggal dunia. Tidak mencium bau sekolah Sujatmi mengarahkan hidupnya menjadi seorang PSK. Karena pekerjaannya itu Sujatmi memiliki satu anak perempuan. Entah laki-laki mana yang jadi ayah kandung dari bocah tak berdosa itu.
Suatu hari, aku pernah melakukan rapat kecil dengan teman-temanku di sebuah kafe dan di situ pula aku melihat Sujatmi. Dia sedang duduk mesra bersama laki-laki seumuran bapakku. Bisa dikatakan 25 tahun lebih tua dari umurnya. Tak berselang lama dia beranjak dari tempat duduknya, menyebrang jalan dan masuk ke dalam losmen depan kefe itu. Menurut cerita kebanyakan orang, losmen itu biasa digunakan untuk hal-hal yang tidak senonoh.
Memang bukan omong kosong teror arwah Sujatmi sudah jadi perbincangan sehari-hari di kampung kami. Mulanya Mbok Darmi yang memberikan keterangan, rumahnya berhadapan dengan rumah Sujatmi. Perempuan dengan rambut yang separuh kepalanya mulai menguban itu cerita dengan menggebu-gebu. Begini ceritanya, selepas azan magrib Mbok Darmi buru-buru mengambil air wudu di sumur pojok kanan rumahnya. Selesai wudu dia jalan masuk ke rumahnya, tapi di tengah perjalanan dia melihat sosok perempuan berambut panjang dengan baju putih, duduk berayun di pohon mangga depan rumah Sujatmi. Mbok Darmi berhenti melihat sosok itu.
“Aku melihatnya sekejap tak lebih satu menitlah. La kok tiba-tiba dia memalingkan mukanya kehadapanku,” omongan Mbok Darmi begitu berkobar.
“Ya Allah Gusti, itu Sujatmi. Wajahnya sendu dengan penuh luka menganga,” suaranya bergetar.
“Dia tersenyum padaku dengan menampakkan giginya. La Yo tubuhku kaku dan sulit untuk digerakkan, tangannya juga melambai-lambai. Aku langsung lari tunggang langgang masuk rumah,” jelas Mbok Darmi.
Tawa orang-orang yang mendengarnya riuh.
“Gak usah senang dulu, jangan-jangan besok giliran kalian semua, bisa ngompol di celana,” ancam Mbok Darmi.
Orang-orang jadi mengerutkan dahi dan merasa ngeri.
Bukan hanya Mbok Darmi, tapi sepertinya semua orang di kampung kami satu per satu didatangi arwah Sujatmi. Pernah temanku Dio pulang dari kerja jam 11 malam. Dia mengaku diboncengi pocong Sujatmi.
“Malam itu aku pulang jam 11 malam, ketika masuk gapura desa, sepedaku terasa berat. Aku berpikir apa banku kempes. Aku tengok banku gak kenapa-kenapa,” suaranya gugup.
“Aku jalan pelan-pelan, giliranku tengok kaca spion. Ada makhluk putih macam permen berkucir di kepalanya. Mukanya lotak, dia juga menghadap ke wajahku. Berhentilah aku, larilah aku terbirit-birit.”
Orang-orang yang mendengarnya cengar-cengir ketakutan.
Pak Tejo juga punya pengalaman mengerikan, dia melihat dorongan yang digunakan untuk memakamkan jenazah Sujatmi. Iya, betul. Sujatmi ketika akan disemayamkan didorong pakai tempat tidur pasien di rumah sakit. Hal itu dilakukan karena saat dia diangkat pakai keranda tidak ada yang kuat memikulnya. Pakai dorongan menjadi jalan pintasnya.
“Sudah pukul 12 malam lebih waktu itu, tiba-tiba ada suara layaknya anak kecil bermain truk diseret. Suaranya hilang pergi. Aku batin siapa malam-malam yang mainan truk. Iseng aku melihat dari jendela, ternyata eh ternyata wanita berbaju putih sedang mendorong tempat tidur pasien di rumah sakit itu,” suaranya meyakinkan.
“Menoleh dia ke hadapanku, benar-benar dia adalah Sujatmi. Melambai-lambai dan tersenyumlah dia, langsung aku tutup gordennya.”
“Jangan-jangan Sujatmi gentayangan karena belum tenang karena banyak tanggungan,” celetuk seseorang.
Banyak orang-orang yang membicarakannya, tapi hanya bisikan-bisikan saja yang terdengar. Tentu saja, mereka takut pembicaraan itu sampai ke telinga anaknya yang sekarang hidup sebatang kara. Kasian anaknya masih kecil.
“Nah bisa jadi,” jawab seseorang.
Sudah bukan rahasia umum, Sujatmi dari umur 18 tahun sudah jadi PSK. Padahal, jaman dia kecil, dia sangat rajin sembahyang. Lantaran pekerjaannya itu membuatnya jauh dari ajaran agama.
Orang-orang yang duduk di warung kopi milik Pak Joko hanya mengangguk-angguk.
“Pakai singlet, rok mini dengan dandanan menor, sepatu hak tinggi, dan jalannya lenggak lenggok. Padahal, sedari kecil dia pakai kerudung.”
Hening.
“Apa karena dia dikubur dengan didorong?” seseorang meruntuhkan keheningan.
“Atau jangan-jangan waktu dikubur ada yang terlupa.”
“Terlupa gimana?” tanya seseorang.
“Ya, misalnya lupa buat lepas tali pocongnya.”
Lagi-lagi hanya diam, tak ada satu jawaban.
“Lalu gimana caranya biar dia tidak meneror lagi?” seseorang berniat menghentikan teror yang sudah lama terjadi.
“Paling pas, bongkar saja makamnya dan cek ulang. Bisa jadi memang benar tali pocongnya belum dilepas. Tapi siapa juga yang mau. Usia kematiannya sudah menginjak satu bulan.”
Hanya helaan napas saja sebagai jawabannya. Sepi membungkus orang-orang itu bersama langit yang sudah tampak tidak sanggup menampung air.
Sudah menginjak satu bulan kematian Sujatmi masih jadi buah bibir di kampung kami. Tiap malam selalu saja ada yang mengatakan diteror arwahnya. Orang-orang juga mengatakan hal itu terjadi lantaran semasa hidupnya bekerja jadi PSK. Aku juga tidak dapat menilainya. Aku dan Sujatmi bukanlah teman dekat. Usia kami terpaut tiga tahun. Aku hanya ingat semasa sekolah dasar, dia anak yang cerdas dan selalu mendapat juara kelas. Namun, semenjak ditinggal ayahnya dia jadi berubah.
Entahlah, banyak misteri yang belum aku tahu soal Sujatmi. Soal arwahnya yang sering meneror, aku juga tidak mengetahuinya. Apa benar memang itu arwahnya. Namun, sesuai ingatan guru ngajiku pernah bilang kalau orang yang meninggal rohnya tidak bisa berkeliaran. Pada umumnya, yang biasanya orang-orang lihat itu adalah jin yang menyerupai orang mati dan suka menakut-nakuti.
Buah karya Regina Eka Meylani —termaktub dalam Antologi Cerpen “Cinta Bajing”
Kader PMII Rayon Raden Santri
