Cinta Luka Cinta Luka Doa

Semua salahku yang menggiring perasaan ini terlalu dalam. Awal perjumpaan aku tak pernah mengira akan meluapkan banyak cerita padanya. Dia perlahan menyajikan kepulan kehidupan yang lama tak kurasakan. Membuatku terlena diambang kesadaran kalau aku dan dia hanya sebatas partner, teman, dan sahabat di lingkar organisasi.

Malam itu, ketika kami duduk di basecamp kesayangan. Aku, Banyu, dan beberapa sahabatku. Ya, ini kebiasaan kami di akhir pekan duduk melingkar dengan secerek kopi yang menemani bualan hingga dini hari. Tak ada skenario dalam topik kali ini sampai akhirnya menjurus pada pembicaraan terhangat tentang percintaan. Sesuatu yang membuatku benar-benar membisu. Melumatkan secuil kata pun tak mampu. Aku hanya mendengarkan arus pembicaraan mereka dan hanya sesekali menuangkan kata bila ditanya. Bukan, bukan berarti aku tak tertarik dengan pembahasan ini atau hanya sekadar bercerita tentang kisahku. Entah aku tak mengerti, aku hanya memilih mendengar dan menyimak obrolan mereka.

Tiba-tiba mata ini semakin berat, berat, begitu berat. Rupa-rupanya lelah menghantui, memintaku istirahat. Sebelumnya aku terhipnotis dengan kalimat yang dilontarkan Banyu “Mencintai Bukan Untuk Dicintai”. Membuatku begitu saja memikirkan, dia adalah laki-laki luar biasa.

Esok paginya, dia sudah duduk ditemani secangkir kopi sembari membaca buku.

“Selamat pagi,” sapanya padaku yang masih menggeliat.

“Pagi,” jawabku sembari berusaha bangkit, duduk di sebelahnya.

“Loh yang lain mana?” tanyaku, karena sedari tadi hanya melihat Banyu seorang diri.

“Sudah pulang, katanya ada acara pagi ini,” jelasnya sambil menyerutup kopi panasnya. Aku memberi anggukan sebagai balasan.

Hening.

***

“Jadi bagaimana menurutmu?” sambung Banyu.

“Apa?” tanyaku bingung.

“Ya obrolan semalam,” kata Banyu melirik melemparkan raut penasaran padaku.

Pagi itulah asal muasal cerita kami. Aku luapkan semua pengalamanku padanya yang berakhir klise, begitu pun dengannya. Ternyata kisahnya serupa denganku, membuatku terpana dengan sosoknya.

“Kita berhak bahagia. Bahagia itu tercipta ketika kita merasa nyaman dan rasa nyaman itu hanya kamu yang dapat merasakan.” Ucapan itu membuatku lagi-lagi membeku kagum.

Dia tak tampan seperti artis Korea Lee Min Ho atau yang lainnya. Hanya saja dia cerdas tampak dari apa saja yang keluar dari mulutnya. Membuatku kagum dan terpesona seakan-akan dia paham terkait seluruh kisah kehidupanku silam. Entah kapan terjadinya, tadi malam, pagi ini, atau sejak pertama kali dia menanyakan namaku. Entahlah ini membingungkan yang pasti setiap kali melihatnya, aku merasakan adanya getaran. Sejak kejadian itu kami sering bertukar pikiran, mulai dari hal serius atau sekadar cerita biasa. Banyu selalu berperilaku baik padaku, ketika aku susah, ketika aku terpuruk, ketika aku menepi sendiri. Dia selalu hadir menemani, entah sedang berada di posisi mana pun. Dia tak pernah menyodorkan pujian manis padaku, tetapi dia selalu mendorong dengan motivasi yang selalu melekat di sanubari.

***

Siang itu di basecamp, ada perempuan yang datang membawa sebungkus makanan. Mataku sedang asik bermain dengan buku karangan Jostein Gaarder, penulis favoritku. Kedatangannya membuat aku mengangkatkan dagu dan meliriknya. Perempuan itu duduk di sebelahku sambil mengotak atik gawai miliknya. Terlihat dari gerak-geriknya pasti dia sedang berusaha menghubungi seseorang. Tak lama kemudian seseorang yang tak asing bagiku muncul menemuinya. Mereka saling tersenyum.

“Hah, ini perempuannya?” tanyaku kaget dalam hati.

“Ini aku bawakan makanan kesukaanmu,” kata perempuan itu sambil menyodorkan kantong plastik yang dibawanya kepada Banyu.

Kalian tahu di situ bukan malah pergi, tapi aku tak bergerak sama sekali. Aku pura-pura bermain dengan buku yang kupegang. Namun, kalian tahu bagimana perasaanku? Pikiranku buyar dan berkecamuk melihat dengan jelas semuanya. Sesekali aku melirik pada mereka, melihat tatapan mereka penuh asmara bahkan tak memedulikan aku sama sekali yang berada di sampingnya.

Hati ini hancur lebur, tak seharusnya aku membiarkan ruang ketika bercerita dengan Banyu. Harusnya aku mengingat bahwa dengan begitu jelasnya dia mengatakan sedang menyukai seorang perempuan. Tak seharusnya aku mengabaikan itu. Tak seharusnya aku mengira laki-laki macam dirinya akan terus bergelit dengan luka sebelumnya tanpa seseorang yang istimewa. Harusnya aku mengendalikan semua ini dan seharusnya aku menyadari kecocokan di antara kami, semua perhatian, semua kebaikan yang dilimpahkan padaku hanya sebatas sahabat tak lebih dari itu. Dan lagi-lagi aku terkungkung pada kata “seharusnya”.

Aku terpaku menunduk, membiarkan mataku menatap kalimat yang ditulis Jostein Gaarder dalam novel legendarisnya. Pikiranku semakin memanas, mataku mulai tak mampu membendung buliran air mata. Namun, kakiku berasa kaku yang membuat sulit beranjak di sisi mereka.

“Ya sudah aku pulang dulu, soalnya aku sudah ditunggu ibu,” kata perempuan itu seraya pergi meninggalkan kami. Banyu masih duduk sambil menghabiskan makanannya.

“Gak ada acara Mel?” tanya Banyu mendadak padaku.

“Enggak,” jawabku singkat.

“Baguslah bisa temenin aku di sini,” kata Banyu tanpa memedulikan aku yang terpana mendengarnya.

Lenggang.

***

Aku mulai terbawa pada angan sebelumnya. Seketika mata Banyu menyorotiku yang membuatku kelabakan berpaling darinya. Tentu saja itu membuat salah tingkah dan membuat dada ini berdetak dengan tak semestinya.

“Stop,” kataku dalam hati.

Aku tak mau hanyut dengan semua perkataan dan semua kebaikan bahkan perhatian yang diberikan padaku. Aku tak ingin kecewa lantas berujung luka. Aku percaya dan sadar jodoh ada di tangan Tuhan, semua kuserahkan pada-Nya. Satu hal yang perlu kalian tahu, aku bahagia bisa diam-diam mencintai Banyu dan menyebut namanya dalam setiap doaku. Ketika perempuan jatuh cinta hanya ada dua pilihan, menjadi Siti Khadijah yang menyatakan cintanya kepada Rasulullah atau menjadi Fatimah Az-Zahra yang mencintai Sayyidina Ali dalam diam.

Bionarasi

Regina Eka Meylani

(PMII Rayon Raden Santri)

Penulis lahir di desa kecil terletak di Kabupaten Magelang. Saat ini, penulis sedang menempuh pendidikan di Universitas Tidar, Prodi pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis beberapa kali mengikuti ajang lomba menulis cerpen dan penerbitan buku antalogi.

Satu pemikiran pada “Cinta Luka Cinta Luka Doa

Tinggalkan komentar

Satu pemikiran pada “Cinta Luka Cinta Luka Doa

Tinggalkan komentar