Relasi kerusakan lingkungan dan kapitalisme
Pertumbuhan ekonomi yang pesat berimbas tingkat konsumsi yang tinggi. Akibatnya memicu eksploitasi lingkungan dan alam sebagai penyedia sumber daya produksi. Kapitalisme membutuhkan pertumbuhan produksi yang terus menerus agar tetap stabil. Stabilnya sistem ini lalu berdampak positif pada peningkatan standar hidup dan ketersediaan lapangan kerja untuk populasi dunia yang terus meningkat. Selanjutnya pengaruh kapitalisme sangat terinternalisasi dalam sendi-sendi perekonomian kita.Jika kita telaah lebih lanjut dari sisi kita sebagai konsumen, produksi tentunya sangat bergantung pada konsumsi atau tingkat permintaan pasar. Tanpa tingkat konsumsi yang cukup untuk menciptakan lebih banyak permintaan, siklus produksi akan lumpuh. Jika daya dukung alam dan lingkungan tidak lagi dapat menopang konsumsi dan produksi, maka tidak terjadi pertumbuhan lalu imbasnya menghasilkan krisis ekonomi dan kerusakan lingkungan yang semakin parah.
Segala rupa kerusakan lingkungan
Di tengah pemanasan global yang sekarang ini dampaknya semakin sering kita rasakan, kasus perusakan lingkungan hidup di indonesia juga terjadi semakin parah. Sudah merupakan rahasia umum jika penyebab utama kerusakan hutan dan pencemaran di Indonesia adalah kegiatan industri dan konversi hutan menjadi perkebunan besar monokultur, pertambangan, serta operasi pabrik-pabrik yang mengeluarkan bahan beracun dan berbahaya. Perubahan iklim yang menyebabkan gelombang panas dan kekeringan dalam waktu panjang pemicu kebakaran hutan. Disamping itu, ketika turun hujan, maka intensitasnya bisa berlangsung selama berhari-hari tanpa henti hingga terjadi bencana banjir bandang. Masifnya alih fungsi hutan untuk kepentingan industri tentunya mengganggu penyerapan emisi karbon dioksida, dan juga mengancam sumber penghidupan masyarakat adat. Praktik ekosida penghancurann lingkungan yang mengabaikan tata ruang dan lingkungan hidup ini menjadi fakta bahwa praktik buruk segelintir korporasi yang menguasai jutaan helktar lahan terbukti memperparah intensitas bencana di Indonesia. Kemudian diperparah oleh kebijakan pemerintah yang justru menguntungkan pemilik modal dan membahayakan masa depan lingkungan hidup.
Tanggung Jawab Sebagai Khalifah
Secara teologis, Islam menempatkan manusia sebagai khalifah (wakil) Allah di muka bumi yang diberi amanat untuk menjaga dan mengelola bumi, Seperti yang tercantum dalam firman Allah SWT.

Allah menganugrahi akal kepada manusia, dan dengan akal itulah Allah menurunkan agama sebagai petunjuk dan pedoman dalam kehidupan, Tugas manusia sebagai khalifah adalah untuk menjaga dan bertanggungjawab atas dirinya, sesama manusia dan alam sebagai sumber penghidupan. Kewajiban sebagai khalifah selanjutnya yaitu menjaga hubungan baik antara manusia dengan tuhannya, antara sesama manusia sendiri, dan antara manusia dengan ekosistemnya. Kewajiban tersebut harus dilaksanakan karena merupakan amanah dari Allah SWT. Tanggung jawab manusia terhadap moral agama sebagai khalifah di bumi yaitu mengelola sebaik-baiknya alam semesta dan kehidupan sosial didalamnya. Kehidupan manusia sangat bergantung pada ekosistem sehingga secara moral manusia terhadap alam dituntut untuk bertanggungjawab atas kelangsungan, keseimbangan dan kelestarian alam yang menjadi sumber kehidupannya
Melihat keberpihakan agama
Sebagai kaum beragama, tentunya kita patut mempertanyakan kembali keberpihakan agama terhadap kerusakan lingkungan. Ceramah-ceramah kegamaan yang membawa semangat perlawanan terhadap perusakan lingkungan kaum pemodal sangat jarang ditemui. Begitupun juga nyaris tak ada pernyataan resmi dari kelompok agama untuk mengutuk bencana ekologis yang terjadi di setiap jengkal negeri ini. Bahkan rasanya sangat sulit menjumpai agamawan yang berada di barisan depan para pejuang lingkungan melawan penghancuran dan penguasaan atas SDA di tangan kaum pemodal. Dari sedikit potret keberpihakan agama tadi setidaknya ada harapan membawa narasi dakwah dalam beragama untuk menuju perlawanan kerusakan lingkungan yang tersistematis ini. Setidaknya ada harapan selain kebisuan agamawan terhadap kerusakan dan penghancuran yang terus berjalan, yang bukan dilatari oleh semangat teologis melainkan sikap politik pragmatis dan oportunis yang bersembunyi di balik prinsip moderasi.
Ilusi keberpihakan korporasi perusak lingkungan hidup
Selain sikap pragmatis dan oportunis tadi, asumsi mengenai segala rupa eksploitasi alam oleh korporasi di suatu wilayah akan memberi berkah kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya, juga turut mematikan spirit pembebasan Islam. Kondisi ini yang akhirnya membuat korporasi maupun pelayannya yaitu pejabat publik mudah membungkam masyarakat melalui program CSR (corporate social responsibility) yang dikucurkan oleh korporasi ke masyarakat agar berkenan mendukung eksploitasi alam yang berdalih pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Jalan Pembebasan Keberislaman Yang Materialis
Bentuk keberislaman materialis bertolak dari kondisi sosial, yang muncul atas keresahan terhadap ketimpangan, kesenjangan, dan kontradiksi, dengan perspektif yang sensitif pada pergeseran dan perubahan fakta-fakta material, dengan demikikan muncul dorongan untuk mengubah secara revolusioner kondisi-kondisi sosial tersebut melalui penggalian sumber-sumber ajaran Islam. Keberislaman materialis merupakan bentuk keberagamaan yang progresif. Keimanan dan keislaman tak hanya diyakini dengan pengamalan, tapi juga mendorongnya mengubah realitas yang dijumpai umat, yang menjadi syarat agar keimanan dan keislamannya dapat ditegakkan dengan sempurna. Seorang Muslim yang progresif tidak puas begitu saja dengan shalat lima waktu dan berzakat, sampai menyadari bahwa shalat dan zakatnya membawa dampak signifikan bagi perbaikan orang maupun lingkungan di sekitarnya. Dalam menjalankan syariat Islam, dipercayai jika syariat benar-benar membawa rahmat, tidak melibatkan bentuk-bentuk yang eksploitatif atau merugikan sesama.
Penutup
Keberadaan kapitalisme yang sangat sistematis tanpa kita sadari telah melunturkan peran utama manusia sebagai khalifah untuk menjaga keseimbangan lingkungan di muka bumi, membawa manusia menuju sifat egois, rakus, melunturkan tangungjawab, mengikis kepedulian sosial serta mengajarkan manusia untuk melakukan eksploitasi, akumulasi modal dan ekspansi atas cara-cara licik yang tidak dibenarkan agama, dan muaranya pada penguasaan sumberdaya alam tanpa batas. Keadaan ini rupanya sudah menjadi wajar pada diri manusia yaitu dengan dalih mencapai kemakmuran dan mendukung pertumbuhan ekonomi negara
Referensi
Krisis Ekologi dan Bangkrutnya Peran Agama
Peran Manusia Sebagai Khalifah Allah di Muka Bumi Perspektif Ekologis dalam Ajaran Islam Watsiqotul, Sunardi, Leo Agung Program Magister Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,Universitas Sebelas Maret, Surakarta
https://anotasi.com/kapitalisme-dan-kerusakan-lingkungan/
https://www.walhi.or.id/kondisi-lingkungan-hidup-di-indonesia-di-tengah-isu-pemanasan-global
https://islambergerak.com/2016/10/membangun-keberislaman-yang-materialis-arah-perjuangan-ekonomi-politik-islam-progresif/
Penulis:
Sahabat Lukman Aziz
(Kader PMII Komisariat Tidar)
