Aku harap penghabisan waktu sembilan puluh empat enam ratus delapan juta detik ini akan menemukan titik damai paling baik; tak terelak kau menyita hampir seluruh ruang Hippocampus ragaku
Ajaib, di tengah lalu lalang kita bertumpu pada tanah yang sama se-inci jari tentang aku dan cerita-cerita itu hanya termaktub dalam jantung
Kau paling layak kupersalahkan, namun aku enggan demikian
Karena tatkala waktuku dihabiskan, ada jiwa yang dibahagiakan
Yaitu “Aku”
Aku berenang kenaifan
Aku tenggelam kegirangan
Aku tak bisa pungkiri
Cinta berapi-api
Kau kekal di atas angin perihal sendu-sendu kecil milikku
Malaikat-nya nurani mengizinkan lisan tuk berucap “terima kasih”
Dari aku, yang sengaja membiarkan diri larung dalam hangat kalimat bijaksana-mu
Dari aku, yang tak luput akan titah-mu “jangan pernah mendewakan apa kataku”
Dari aku, sepatu bertali.
Magelang, 29 Agustus 2022
Buah Karya Fani Listiani
(Kader PMII Komisariat Tidar)
