Antologi “Cendayam Sukma Bestari”

Amuk

Nyawaku bernaung di mayapada
Terseok-seok mendamba seorang pria
Ia menggambar nirwana di relung anak manusia
Bukan dewa tapi taringnya bak neraka
Bukan pula malaikat tapi tawa-nya begitu memikat
Aku menerjang seribu jenggala
Tuai jutaan derita menengadah asa
Terjerembab muskil, laraku memborok melahirkan bau bekil
Sebentar lagi kuyakini aku mati
Sebelum ajal tiba, kucongkel kudepak kurobohkan kutikam kubanting kuhantam kumaki kucemooh kuhina kuusir kujegal kutampar kutimpuk kujambak kusayat kurobek kubenci kusumpah serapahi kubungkam kutabur garam kukukukukuku kupatahkan butir demi butir cinta kasih dalam sanubari mu
Agar abadi tangguh mu, kokoh mu, batu mu, sikap mu yang dingin bak kulkas tiga pintu
Ada danau air mata di rumahku
seluruh tetes-nya berisi derai tentang mu
Amukku lebih membahana ketimbang murka-nya delapan samudera
Tapi akhirnya aku
Aku binasa tertaut bayang, aku binasa tenggelam kenang

Magelang, 07 September 2022

Tinggalkan komentar