Abatatsa

Rawi pagi mulai bersinarMemeluk hangat tubuh mungil yang terkapar di atas damparDiselimuti selarang tipis nan kasarPerlahan-lahan mulai terbangun, gelayaran sembari melamunLangkahkan kaki menuju pembasuhanPagi hari panaskan wajan, siangnya pergi meladang Sore hari duduk di masjid, malamnya menyimak tasydid demi tasydidTerkantuk-kantuk sudah biasa, asalkan tidak kena deraSegala penat tiada dirasa demi mengharap ridho belakaDulu ia masih …

Lanjutkan membaca Abatatsa

Seolah-olah

Darah segar merah yang berubah menjadi nanahMenggumpalMenyatuEnggan memecahMenjadi momok tak terarahResahMembatu jadi rumah bagi para penjarahYang diam-diam mencangkuli kepala-kepala tak bersalahNanah muncrat kesana kemari membawa berkahPada setan-setan yang berbisik pada hati yang lengahMengalahBerkeluh kesahSedang raga satu detik lagi akan segera musnahEnyah!! Karya:Amaliahmd(Kader PMII Komisariat Tidar)

Sukma

Kubukakan pintu rumahku, lalu kau menghampirinyaBarangkali ini sebuah kabar baikKabar lampau yang tak kunjung datangAku bergumam, kau mau kemana?Dengan ketenangan, kau menyaruMencabar, hingga hilang sadarAku menjerit terkaparBerbaring lalu tak sadarYa Allah! Kau siapa! -segala samarPulang kau kembali.Karya: Sapta Mutiara (Kader PMII Rayon Raden Santri)

Pedang Sang Kyai

Di salah satu pesantren daerah Jawa Tengah hiduplah dua orang santri yang bernama Zaid dan Ahmad. Mereka merupakan salah satu santri Kyai Hudail. Dalam pesantren yang diasuh beliau metode pembelajaran dibagi menjadi dua. Metode pertama adalah sorogan, metode ini merupakan metode paling ditakuti oleh santri karena santri dituntut untuk menghafal pelajaran dan disetorkan pada guru. …

Lanjutkan membaca Pedang Sang Kyai

Gigi Bertulang

Hari demi hari Ana menjalani kehidupan dengan rasa yang amat menyesal dalam benak hati karena adanya keadaan yang membuat hatinya terasa terdesak. Ia sering berkaca-kaca pada pusaran mata yang berada di hadapannya adalah kaca untuk memuaskan rasa dalam benak hati agar sifat Ana terasa tenang dalam memuntahkan semua kesesalannya. Ana sudah 3 tahun ditinggalkan sang …

Lanjutkan membaca Gigi Bertulang

Rasa Ibu

Perlahan tanpa sukar letihnya berkataDari kata permakna terkemas menjadi rasaSeutas irama pertanda kasih untuk semuaSelama itu jeratan angan tetap samaMenjadi pecutan bagi pendengarnyaMeski hanya lirih satu makna setengah kataDan semua masih berlaku sampai ujung temu tak lagi ada pada ragaRasa senyap mengingatkan dimana ujungnya sebuah pesan yang menyelimuti diriSampai detik ini angan itu masih terjaga …

Lanjutkan membaca Rasa Ibu

Dapatkan Hati dengan Komunikasi

Sering kali para gadis bertanya-tanya. Apa yang membuat seorang perempuan dapat dikatakan cantik? Apakah warna kulitnya? Bentuk panca inderanya? Atau gaya berpakaiannya? Nyatanya, jawaban setiap orang berbeda. Mereka yang bijak–atau pura-pura menjadi bijak berkata, bahwa seorang perempuan dapat dikatakan cantik apabila mempunyai karakter yang apik. Namun, pada kenyataannya juga–visual, terutama wajah sering kali menjadi tolok …

Lanjutkan membaca Dapatkan Hati dengan Komunikasi

Dari Sahabat Menjadi Cinta

Aku tak biasa menyampaikan rasa dalam bicaraAku tak biasa merangkai kata seperti pujanggaNamun, cinta ini benar adanyaHanya saja aku simpan dalam rangkuman doaBiar saja saat ini logika hanya menyapamu dalam diamBiar saja saat ini raga hadir dalam persahabatanBiar saja saat ini angan tertuang dalam sajak tulisanKarena mungkin,Menjaga rasa ini adalah membuatmu tetap nyamanKarya:Nadin Aulia(PMII Rayon …

Lanjutkan membaca Dari Sahabat Menjadi Cinta

Cinta Luka Cinta Luka Doa

Semua salahku yang menggiring perasaan ini terlalu dalam. Awal perjumpaan aku tak pernah mengira akan meluapkan banyak cerita padanya. Dia perlahan menyajikan kepulan kehidupan yang lama tak kurasakan. Membuatku terlena diambang kesadaran kalau aku dan dia hanya sebatas partner, teman, dan sahabat di lingkar organisasi. Malam itu, ketika kami duduk di basecamp kesayangan. Aku, Banyu, …

Lanjutkan membaca Cinta Luka Cinta Luka Doa

Berkat Nyadran

Dening : Nyai Munying (Riski Wulan Fitri) Produksi Kaping Pisan 2022 TOKOH: BU ZUBAEDAH: perempuan usia awal 40-an, kaya, sombong, lamis, ibu-ibu sosialita, tipe ibu-ibu everything about me BU SITI: perempuan usia akhir 30-an, kurang mampu, selalu dihina oleh Bu Zubaed BU SETIYANI: perempuan usia awal 40-an, tengah-tengah KENZO: anak Bu Zubaed, kelas 5 SD, …

Lanjutkan membaca Berkat Nyadran